Pawai Ogoh-ogoh Buktikan Semarang Sebagai Kota Besar Paling Toleran

pawai ogoh-ogoh di Semarang. (matasemarang.com/Lia dina)
pawai ogoh-ogoh di Semarang. (matasemarang.com/Lia dina)

Suasana makin cair saat rombongan mencapai Simpang Lima. Di hadapan warga, Agustina berinteraksi mengenai filosofi ikon akulturasi Semarang, Warak Ngendok.

Ia menekankan simbol perpaduan naga, kambing, dan unta tersebut adalah bukti bahwa kerukunan telah menjadi napas kehidupan kota sejak lama.

“Berbagai karnaval keagamaan yang kita gelar hingga hari ini, mulai dari Dugderan hingga Karnaval Paskah, memberikan bukti bahwa kerukunan lintas agama di Semarang berdampak langsung pada penguatan ekonomi dan pariwisata. Kita buktikan bahwa Semarang selalu damai, kondusif, dan siap untuk terus maju,” jelasnya.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Dinporapar Jateng Harap Ada Investor Kembangkan Semarang Zoo

Pada kesempatan itu, Agustina memberikan bocoran mengenai perhelatan besar berikutnya dalam rangka HUT ke-479 Kota Semarang, yakni Semarang Night Carnival (SNC) pada 2 Mei mendatang. Event internasional tersebut akan menghadirkan delegasi dari Jepang, Korea, Belanda, hingga Maroko.

“Mari kita jaga terus semangat ini dan jadikan perbedaan sebagai energi kolaborasi. Saya minta masyarakat turut mengabarkan bahwa Semarang akan menyambut dunia melalui Semarang Night Carnival. Mari kita jadikan Semarang sebagai tuan rumah bersama yang nyaman dan rukun bagi semua,” pungkasnya.

Pos terkait