Jadi, Como baru bermain di Serie A selama dua musim, mulai musim 2024/2025.
Evolusi rasa revolusi
Namun, pencapaian Como tetap mengejutkan banyak orang karena grafik performa mereka terus menanjak. Hingga musim ini mereka menjelma menjadi salah satu kandidat kuat peserta kompetisi Eropa musim depan, bahkan membuka peluang tampil di Liga Champions.
Uniknya, Como tidak melakukan itu dengan strategi rekrutmen gila-gilaan.
Semuanya dilakukan dengan terencana matang dan pelan tapi pasti, sambil mengatur tempo dan strategi keuangan klub sehingga tidak menabrak aturan keuangan liga dan sepak bola Eropa.
Pada bursa transfer musim panas lalu, Como memang mendatangkan 11 pemain baru. Namun, lima di antaranya sebenarnya merupakan pemain yang sebelumnya sudah mereka pinjam.
Transfer termahal mereka pun cuma Jesus Rodriguez yang dibeli dari Real Betis pada harga 22,5 juta euro.
Sementara pada bursa transfer Januari, Como hanya merekrut dua pemain tambahan, dengan pembelian termahal berada di kisaran 12 juta euro.
Di balik perkembangan itu, sentuhan Cesc Fabregas membawa andil yang sangat besar. Fabregas bukan hanya pelatih, tetapi juga pemegang saham minoritas Como, bersama mantan bintang Arsenal lainnya, Thierry Henry.
Nama Fabregas sebagai pelatih memang belum sebesar reputasinya ketika masih menjadi maestro lini tengah timnas Spanyol, Arsenal, Barcelona, Chelsea, Monaco, hingga Como sendiri.
Yang jelas, gabungan tangan dingin Fabregas, dan uang serta komitmen Djarum Group yang saat ini merupakan pemilik klub sepak bola terkaya di Italia, Como terus mencapai titik yang dari hari ke hari semakin tinggi.


















