Presiden Prabowo menyebutkan bahwa penyebaran hoaks dan fitnah melalui media sosial berpotensi merusak suatu negara, terutama dengan dukungan perkembangan teknologi digital.
“Dulu kirim pasukan, kirim bom, sekarang tidak perlu. Mungkin dengan permainan sosmed, dengan fitnah, hoaks,” katanya.
Presiden menjelaskan bahwa kemajuan teknologi, AI, dan sistem informatika digital juga memungkinkan seseorang memiliki banyak akun dalam jumlah besar.
Dengan dukungan perangkat yang relatif tidak terlalu mahal, akun-akun tersebut dapat diperbanyak, sehingga menimbulkan kesan seolah-olah berasal dari banyak pihak.
Dia mengungkapkan kondisi tersebut dapat menciptakan efek gema atau echo chamber yang mampu memperbesar suatu isu hingga terlihat masif, meskipun pada awalnya hanya berasal dari kelompok kecil.
“Jadi yang agak repot mungkin 100 orang, 200 orang, mungkin 1000 orang, mungkin 5000 orang bisa bikin heboh. Nah ini namanya echo chamber. Ada ini dalam pembelajaran intelijen, ini ada, bagaimana merusak sebuah negara lain,” kata Prabowo. [Ant]


















