“Pada saat yang sama, kami mempertimbangkan teknologi ‘powertrain’ pada masa mendatang yang dapat menjadikan mesin lebih efisien dikombinasikan dengan teknologi AI akan menjadi lebih cerdas dan sangat efisien,” tambah Wang.
Geely, kata Wang, juga mengembangkan kendaraan dengan menggunakan bahan bakar alternatif, seperti metanol dan bahkan hidrogen.
“Kami sudah memiliki sekitar 40.000 kendaraan di pasaran dengan teknologi hibrida metanol,” ungkap Wang.
Terkait dengan perang dagang antara AS dan China, termasuk untuk ketersediaan “chip” cerdas di setiap unit mobil, Wang mengatakan ada jenis mobil Geely yang menggunakan “chip” dari AS yaitu NVIDIA tapi juga “chip” dari dalam negeri.
“Mobil-mobil yang kami kerjakan menggunakan NVIDIA, tapi ntuk keperluan lain kami dapat menggunakan “chip” pasokan lokal atau dari negara Asia lain, sehingga hal itu bukan masalah besar,” ungkap Wang.
Pabrik Geely juga beroperasi menggunakan robot untuk pembuatan kerangka dan manusia di bagian perakitan. Dalam 1 menit Geely dapat menyelesaikan perakitan 6 komponen.
China pun terus menjadi pusat manufaktur mobil listrik dunia dengan menyuplai lebih dari 70 persen produksi mobil listrik global.
Mobil-mobil listrik yang diproduksi sesungguhnya menyumbang sekitar 80 persen penjualan domestik pada 2024 dan hampir semua dari 25 persen pertumbuhan produksi mobil listrik global.
Agresivitas pemerintah dan produsen mobil China memang membuat berbagai negara bereaksi yang mempertanyakan apakah kendaraan listrik Tiongkok mendapat keuntungan tidak adil dari subsidi.

















