Ia menambahkan bahwa lembaran-lembaran surat dan dokumen komunikasi pada era pendudukan Jepang (1942–1945) yang dipamerkan, membangkitkan kembali memori kolektif bangsa akan kekejaman militerisme masa lalu.
Melalui filateli, masyarakat diperlihatkan bagaimana benda sekecil perangko pernah memegang peran luar biasa sebagai instrumen kontrol publik oleh penguasa militer Jepang untuk mengawasi informasi dan membatasi komunikasi.
“Di era digital, ketika informasi datang begitu cepat dan mudah hilang, arsip menjadi pengingat yang sangat berharga. Filateli mengajarkan kepada kita bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak kehilangan ingatannya. Karena itu saya mengajak masyarakat, khususnya anak-anak muda, untuk datang melihat pameran ini, membaca arsip-arsipnya, dan memahami bagaimana perjalanan bangsa ini dibangun dari pengalaman-pengalaman sejarah yang tidak selalu mudah,” kata dia.
Agustina juga mengabadikan momentum melalui penandatanganan Sampul Peringatan Hari Jadi ke-479 Kota Semarang. Melalui perangko dan sampul peringatan ini, Agustina ingin menitipkan pesan masa kini untuk masa depan tentang bagaimana Kota Semarang tumbuh melewati masa-masa sulit kolonialisme hingga menjadi kota yang maju.
Di akhir acara, Pemkot Semarang bersama Kementerian Kebudayaan membagikan suvenir eksklusif berupa amplop dan kartu pos filateli kepada para tamu undangan sebagai bagian dari upaya mencetak sejarah. Pameran filateli ini terbuka untuk umum dan akan berlangsung di Rumah Pohan mulai Minggu, 31 Mei hingga 7 Juni 2026 mendatang.

















