Penurunan fungsi sebagai manusia, lanjut dia, juga terlihat jelas ketika seseorang mendadak menjadi malas dan kehilangan gairah untuk menjalani kehidupan sehari-hari yang produktif.
“Penting untuk mengevaluasi secara jujur apakah diri sendiri berkembang menjadi pribadi yang lebih baik atau justru menyusut menjadi kerdil dalam hubungan itu,” jelasnya.
Seseorang juga perlu bertanya pada hatinya sendiri apakah ia lebih sering merasa takut atau merasa nyaman saat berada di dekat pasangannya dalam keseharian.
Poin krusial lainnya adalah memastikan apakah pasangan benar-benar mengubah perilakunya secara nyata lewat tindakan dan bukan sekadar janji manis di bibir saja.
Psikolog Fransisca membagikan langkah pertama dan terpenting untuk melepaskan diri adalah mengakui perasaan sendiri dan berhenti menyangkal kenyataan bahwa hubungan tersebut memang sudah tidak sehat.
Lebih lanjut ia mengatakan rasa sayang yang masih tersisa seringkali menjadi penghalang utama, namun penyangkalan terhadap realitas hanya akan memperburuk kondisi mental seseorang dalam jangka panjang.
“Dukungan eksternal dari sistem pendukung yang positif seperti teman dekat atau keluarga sangat dibutuhkan untuk menguatkan mental dalam fase kritis ini,” katanya. ***

















