Pertandingan itu berlangsung kasar sampai-sampai wasit mengusir kapten Argentina, Antonio Rattin.
Pelatih Inggris Sir Alf Ramsey kemudian menyebut Argentina “binatang” karena bermain kasar dan tak sportif. Berkahnya, laga itu memicu FIFA mengenalkan konsep kartu kuning dan kartu merah dalam Piala Dunia berikutnya.
Duapuluh tahun kemudian, kedua tim bertemu lagi dalam perempatfinal Piala Dunia 1986, dua tahun setelah Perang Malvinas, perang antara Argentina dan Inggris yang memperebutkan sebuah pulau .
Pada laga itu, Inggris tersingkir gara-gara gol “tangan tuhan” dan “gol terbaik abad ini”, yang keduanya diciptakan oleh Diego Maradona. Inggris merasa dicurangi, dan kiper Peter Shilton menolak permohonan maaf Maradona.
Kedua tim bertemu lagi pada babak 16 besar Piala Dunia 1998 ketika Inggris kalah adu penalti setelah seri 2-2 selama 120 menit. Inggris merasa diakali oleh Diego Simoene, yang dianggap bersandiwara sehingga David Beckham diganjar kartu merah.
Empat tahun setelah itu, Beckham membalas kekalahan itu dalam laga tak kalah sengit. Dia menyarangkan gol penalti yang memenangkan Inggris 1-0 dalam fase grup Piala Dunia 2002.
Itulah terakhir kali kedua tim bertemu dalam Piala Dunia. Tapi pertemuan terakhir di antara mereka terjadi pada 12 November 2005 dalam laga persahabatan di Swiss yang dimenangkan Inggris 3-2.
Level lebih kompetitif
Setelah 21 tahun, kedua tim kembali bertemu dalam panggung yang lebih kompetitif, dalam semifinal Piala Dunia.
Walau ada enam pemain Argentina yang bermain di Liga Inggris, yang lima di antaranya selalu diturunkan sebagai starter oleh pelatih Lionel Scaloni, semifinal Inggris melawan Argentina sepertinya akan sama dramatisnya dengan pertemuan-pertemuan mereka sebelum ini. Apalagi kedua tim juga sama-sama memanggul ambisi besar.

















