MATASEMARANG.COM – Sirene meraung membelah kemacetan Kota Atlas bukan lagi sekadar penanda petaka api.
Di balik kemudi armada merah menyala Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang, ada pergeseran paradigma yang sunyi namun nyata.
Tugas mereka tak lagi melulu soal menjinakkan si jago merah, melainkan telah menjelma menjadi tumpuan segala rupa kecemasan warga, mulai dari evakuasi cincin yang menjepit jari, mengambil kunci yang terperosok ke selokan, hingga penyelamatan hewan di atap.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang Sih Rianung menegaskan bahwa transformasi pelayanan ini adalah komitmen untuk hadir langsung menangani persoalan masyarakat.
“Kami tidak hanya api membesar baru bergerak. Setiap panggilan darurat, sekecil apa pun itu akan kami respons,” ujar Sih Rianung.
Melampaui Batas Pemadaman: Lonjakan Kasus Non-Kebakaran
Data menunjukkan tren yang menarik sekaligus menantang dalam tiga tahun terakhir.
Angka kasus kebakaran murni di Kota Semarang sejatinya berhasil ditekan: dari 489 kasus pada 2023, menyusut menjadi 341 kasus pada 2024, dan turun lagi ke angka 275 kasus pada 2025.
Menurunnya kasus kebakaran ini tentunya juga tak lepas dari getolnya edukasi menyadarkan masyarakat agar melek pada potensi kejadian kebakaran di lingkungannya.
Para personel Dinas Damkar Kota Semarang lantas tak bisa dianggap “makan gaji buta” jika tidak ditemukan kasus kebakaran sepanjang tahun.
Mereka yang bekerja untuk mencegah terjadinya kasus kebakaran dengan kegiatan sosialisasi dan edukasi di tengah masyarakat.
Memasuki medio Januari hingga Mei 2026, tercatat ada 87 kasus kebakaran, dengan titik merah paling rawan berada di Kecamatan Semarang Tengah (12 kasus) dan Semarang Barat (11 kasus), di mana mayoritas dipicu oleh perkara lain-lain seperti korsleting kabel listrik dan malafungsi peralatan rumah tangga (31 kasus).
Sebaliknya, grafik penanganan non-kebakaran (penyelamatan) justru meroket tajam.
Jika pada 2023 korps baju pemadam ini menangani 1.103 aksi penyelamatan, angkanya melonjak menjadi 1.389 pada 2024, dan menembus 1.912 laporan pada 2025.
Hanya dalam kurun lima bulan pertama tahun 2026 (Januari–Mei), jajaran Damkar sudah merespons 904 operasi penyelamatan.
Dominasi aksi penanganan ini dipimpin oleh animal rescue yang mencapai 665 kasus, disusul oleh penanganan medical first seperti pelepasan cincin (41 kasus), hingga evakuasi kecelakaan transportasi (18 kasus).
Hal ini menunjukkan bahwa para petugas Dinas Damkar Kota Semarang sigap merespons panggilan masyarakat yang sedang berada dalam kondisi darurat.
“Masyarakat Kota Semarang tahu, apa pun kesulitan daruratnya, yang hubungi Damkar. Ini bukti bahwa kami bersentuhan langsung dan dipercaya oleh publik,” kata Sih Rianung bangga.
Capaian Pendapatan yang Melampaui Target
Kehebatan performa di lapangan ini rupanya berbanding lurus dengan tata kelola fiskal institusi.
Dinas Damkar Kota Semarang mencatatkan rekor impresif dalam sumbangsih Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Pada 2023, dari target Rp30 juta, mereka berhasil merealisasikan Rp41,250 juta (137,5%).
Tren performa di atas kertas ini berlanjut pada 2024 dengan realisasi Rp64,750 juta dari target Rp50 juta (129,5%).
Puncaknya pada 2025, realisasi pendapatan melonjak ke angka Rp76,5 juta atau 153% dari target.
Untuk tahun anggaran 2026 yang masih berjalan, dari target Rp57,245 juta, per Mei ini sudah terkumpul Rp23,5 juta (41,05%).
“Melampaui target PAD ini bukan soal komersialisasi, melainkan penegakan regulasi keselamatan,” jelas Rianung.
Keberhasilan finansial dan kepuasan publik inilah yang seharusnya mendasari urgensi Pemkot Semarang untuk terus memberikan dukungan dana lebih atau suntikan anggaran yang lebih kuat.
Diketahui, angaran untuk Dinas Damkar Kota Semarang tahun 2026 adalah sekitar Rp41 miliar.
Jika ditambah, pendanaan tersebut sangat krusial guna memperkuat urat nadi operasional tim pemadam yang saat ini tersebar di 7 pos strategis, yakni di Pos Induk (Krobokan), Pos Gunungpati, Pos Banyumanik, Pos Tugu, Pos Pedurungan, Pos Genuk, dan Pos Semarang Timur.
Tantangan Penguatan Armada dan Personel Terlatih
Sebab, jika menilik beban kerja yang kian kompleks, modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan penguatan kapasitas personel menjadi harga mati yang tak bisa ditawar.
Saat ini, kekuatan logistik bergerak Damkar Kota Semarang bertumpu pada:
- 3 unit mobil tangki air kapasitas 3.000 liter
- 1 unit mobil tangki air kapasitas 10.000 liter
- 15 unit mobil PMK air (kapasitas 5.000 liter air dan 500 liter foam)
- 1 unit mobil rescue
- 1 unit mobil rescue dan storing
Sementara dari sisi sumber daya manusia, dari total 290 personel tersertifikasi yang dimiliki saat ini, kualifikasinya masih didominasi oleh kelas Damkar 1 sebanyak 280 personel, disokong 3 Inspektur, dan 7 spesialis Penyelamatan.
Melihat luas wilayah geografis Kota Semarang yang mencakup area pesisir hingga perbukitan rawan longsor, restrukturisasi anggaran yang diajukan ke Pemkot diarahkan untuk memperbanyak armada tangki taktis, peningkatan kualifikasi sertifikasi personel ke tingkat ahli mutakhir, serta pemenuhan alat pelindung diri (APD) standar internasional.
Bagi warga Semarang, kehadiran petugas Damkar di pos-pos kecamatan kini tak ubahnya jaminan rasa aman.
Dengan sokongan anggaran yang semakin tebal dari Pemkot sebagai ganjaran atas kinerja mentereng mereka, pasukan penakluk api ini siap melangkah lebih jauh, bukan sekadar memadamkan bara, melainkan merawat kenyamanan kota.


















