Hasil dari ketekunan itu, kini tercatat dalam sejarah. Vaksin Oxford-AstraZeneca diproduksi secara massal dan digunakan di lebih dari 180 negara.
Namanya masuk dalam daftar pemegang paten, mengukuhkan kontribusinya sebagai bagian dari tim yang menyelamatkan dunia.
Berkat kerja kerasnya, penghargaan demi penghargaan datang silih berganti. Tahun 2021, ia bersama timnya menerima “Pride of Britain Awards” di London, sebuah pengakuan publik terhadap dampak luar biasa vaksin tersebut.
Dua tahun kemudian, ia meraih “Achmad Bakrie Awards” di Jakarta, sebuah apresiasi dari tanah air atas kerja kerasnya. Pada 2023, Universitas Airlangga mengukuhkannya sebagai Guru Besar Kehormatan.
Terkini, pada Agustus 2025, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menganugerahkan Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama, penghargaan tertinggi negara bagi warganya yang memberi jasa luar biasa.
Untuk generasi muda
Di balik semua penghargaan itu, Carina tetap melihat pentingnya membangun generasi baru di bidang sains. Menurut dia, jalan hidupnya di dunia sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) bukanlah jalan instan.
Ada proses panjang yang melelahkan, penuh kegagalan, dan keraguan, namun justru ketekunan dan daya tahan menghadapi kegagalan yang menentukan keberhasilan. Baginya, riset adalah maraton, bukan sprint.
Carina juga percaya bahwa pendidikan sains harus membangkitkan rasa ingin tahu, bukan sekadar menjejali hafalan rumus. Ia melihat guru memegang peran penting dalam membuat sains terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

















