Pada 2008, ia menempuh sarjana bioteknologi di Universitas Hong Kong. Di kota itu, Carina ditempa dengan disiplin riset yang ketat, sekaligus pergaulan internasional yang memperluas wawasannya.
Setelah lulus, ia melanjutkan studi ke Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT) di Australia, meraih gelar master dan kemudian doktor di bidang bioteknologi dan menyelesaikannya pada 2019, tepat sebelum pandemi.
Momen itu menjadi pintu masuk ke tantangan sesungguhnya. Carina bergabung dengan Jenner Institute, Universitas Oxford, salah satu pusat riset vaksin terkemuka dunia.
Tidak lama kemudian, dunia dihantam pandemi. Situasi itu membuat semua tenaga riset dikerahkan sepenuhnya. Carina yang saat itu baru bergabung, langsung terjun ke jantung pertempuran ilmiah melawan virus.
Carina menceritakan pengalamannya saat berada di laboratorium Oxford yang penuh ketegangan. Tidak jarang ia bekerja hingga 18 jam dalam satu hari, demi menyelesaikan proyek vaksin yang kini telah disuntikkan kepada miliaran manusia di Bumi.
Pandemi membuat mobilitas terbatas, kolaborasi tidak berjalan normal, dan risiko tertular selalu mengintai, namun penelitian tidak bisa berhenti.
Carina kerap bekerja sendirian, menguji formula demi formula, mencari cara agar proses produksi bisa diadaptasi dari skala laboratorium menjadi skala industri
Tekanan datang dari segala arah, kebutuhan global yang mendesak, waktu yang sangat terbatas, serta beban moral bahwa miliaran orang menunggu hasil kerja mereka.
Ada saat ia hampir menyerah, tetapi tanggung jawab sebagai ilmuwan dan kesadaran bahwa banyak nyawa dipertaruhkan membuatnya tetap bertahan.


















