Pakar Ekologi Unnes Ingatkan Risiko Proyek Geothermal Gunung Ungaran: Dari Katak Langka hingga Sumber Air

Guru Besar Unnes Prof. Margareta Rahayuningsih (foto: Unnes)
Guru Besar Unnes Prof. Margareta Rahayuningsih (foto: Unnes)
  • Guru Besar Unnes Prof. Margareta Rahayuningsih mengingatkan risiko besar proyek geotermal Gunung Ungaran
  • Lereng Gunung Ungaran merupakan hulu air kawasan Kedungsepur dan habitat satwa kritis terancam punah
  • Akademisi mendesak penyusunan Amdal independen, studi hidrologi, serta pelibatan masyarakat sejak awal

MATASEMARANG.COM – Rencana pemerintah untuk menggarap proyek energi panas bumi (geothermal) melalui pengeboran di kawasan Gunung Ungaran terus mendapatkan sorotan kritis dari kalangan akademisi.

Langkah eksplorasi energi baru terbarukan (EBT) ini dinilai memerlukan kehati-hatian ekstra mengingat Gunung Ungaran memegang peranan vital sebagai kawasan penyangga ekologi, tangkapan air, serta benteng keanekaragaman hayati di Jawa Tengah.

BACA JUGA  Guru Besar Unnes Ciptakan Alat Ubah Udara Jadi Air Minum

Guru Besar Bidang Biodiversitas Universitas Negeri Semarang (Unnes) Prof. Margareta Rahayuningsih menjelaskan bahwa setiap aktivitas fisik maupun pengeboran di kawasan tersebut dipastikan membawa dampak ekologis mendasar.

Bacaan Lainnya

“Secara umum, apabila titik proyek berdekatan dengan lokasi mata air, ekosistem tertentu, dan habitat satwa, pasti ada pengaruhnya. Namun yang paling penting dan tidak boleh dilupakan adalah masyarakat sekitar yang terdampak. Mereka harus dilibatkan sejak awal agar tidak timbul konflik sosial dan hilangnya kepercayaan kepada pemerintah,” tegas Prof. Margareta pada Kamis, 3 September 2026.

BACA JUGA  Buntut Penolakan Geothermal Ungaran, Gus Yasin Minta Ekosistem Tetap Dijaga

Kantong Habitat Satwa Dilindungi dan Katak Kritis Terancam Punah

Prof. Margareta menjelaskan bahwa lereng dan kawasan hutan Gunung Ungaran merupakan kantong habitat penting yang menjadi tempat mencari makan, beristirahat, hingga berkembang biak bagi berbagai jenis satwa langka yang dilindungi undang-undang.

Kawasan hutan sisa di Jawa Tengah ini menjadi rumah bagi burung Elang Jawa, Julang Emas, Trenggiling, serta Lutung Jawa.

Selain itu, Gunung Ungaran menjadi benteng pertahanan terakhir bagi amfibi endemik Philautus jacobsoni. Katak pohon langka ini sempat dinyatakan hilang (lost species) sejak tahun 1912 sebelum akhirnya ditemukan kembali di Gunung Ungaran, dan kini berstatus Sangat Terancam Punah (Critical Endangered – CR) menurut daftar merah IUCN.

Pos terkait