Hingga Agustus, 232 Karhutla Terjadi di Jateng

ilustrasi kebakaran hutan atau karhutla (pixabay/vlad_aivazovsky)
ilustrasi kebakaran hutan atau karhutla (pixabay/vlad_aivazovsky)
  • Kasus karhutla di Jawa Tengah periode Januari–23 Agustus 2026 melonjak 700 persen dibanding tahun lalu dengan total 232 kejadian
  • Wagub Jateng Taj Yasin Maimoen mengimbau warga tidak membuang puntung rokok sembarangan untuk mencegah kebakaran di tengah kemarau ekstrem
  • Kebakaran lahan terbanyak melahap kawasan pertanian tebu dan semak belukar akibat faktor kelalaian manusia

MATASEMARANG.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi ancaman serius bagi wilayah Jawa Tengah seiring masifnya peningkatan kasus selama musim kemarau tahun 2026.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen meminta masyarakat untuk bersama-sama melakukan langkah pencegahan agar musibah kebakaran tidak kembali terjadi di berbagai daerah.

BACA JUGA  Wagub Taj Yasin Apresiasi Tanam 1000 Bibit Pohon di Waduk Logung Kudus

Imbauan tersebut disampaikan Taj Yasin usai mendampingi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi di Gedung Grhadika Bhakti Praja, Semarang, pada Senin, 24 Agustus 2026.

Bacaan Lainnya

“Kebakaran hutan dan lahan memang ada di beberapa tempat. Kemarin saya dapat laporan dari Wonogiri dan Kudus. Kita harus antisipasi, kita harus menjaga betul. Kalau merokok jangan buang puntung rokok asal lempar, karena bisa menyebabkan kebakaran,” katanya.

BACA JUGA  8 Napi Lapas Semarang Dapat Remisi Khusus Waisak

Taj Yasin menegaskan bahwa cuaca panas ekstrem pada musim kemarau saat ini membuat vegetasi kering menjadi sangat mudah terbakar hanya karena kelalaian kecil.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah per 23 Agustus 2026, tercatat ada 232 kejadian karhutla yang tersebar di 35 kabupaten dan kota.

Kepala BPBD Jateng, Bergas Catursasi Penanggungan, mengungkapkan bahwa jumlah kasus karhutla sepanjang periode Januari hingga Agustus 2026 ini melonjak hingga 700 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025.

BACA JUGA  Pemkot Usulkan Pembangunan Tiga SMA Negeri di Semarang

Peningkatan tren kebakaran tercatat mulai melonjak signifikan sejak memasuki puncak musim kemarau pada bulan Juni, Juli, dan Agustus.

“Kebakaran lahan didominasi kebakaran lahan pertanian, khususnya tebu dan semak belukar. Penyebabnya diduga karena human error. Untuk lahan tebu biasanya untuk membersihkan selasar tebu saat panen,” terang Bergas Catursasi Penanggungan saat dihubungi terpisah.

Pos terkait