Dari Kebun Warisan hingga Panggung Dunia: Jejak Biru Tinctori Menenun Ekonomi Desa

produk Tinctori (matasemarang.com/Lia Dina)
produk Tinctori (matasemarang.com/Lia Dina)
  • Tinctori produk fesyen lokal yang konsisten gunakan pewarna alami dari daun indigofera
  • Pemasaran digital jadi peluang besar untuk memasarkan produk Tinctori hingga ke pasar ekspor melalui Shopee

MATASEMARANG.COM Di sebuah sudut desa yang tenang, tepatnya di Jlamprang Wetan RT 03 RW 06 Kelurahan Gemawang Kecamatan Jambu Kabupaten Semarang, warna biru tak sekadar visual, melainkan napas kehidupan.

Di tangan Saiful Nurudin (37) dan puluhan warga sekitar, daun-daun Indigofera yang hijau diolah menjadi pewarna alami nila menciptakan helai demi helai busana yang kini melintasi batas kota hingga benua.

BACA JUGA  Ada 500 RT/RW Ogah Ajukan Pencairan Dana Operasional Rp25 Juta

Namun, sebelum nama Tinctori dikenal luas hingga ke galeri fesyen Jakarta dan mancanegara, segalanya bermula dari langkah sederhana seorang ayah dan keputusasaan seorang anak muda yang kehilangan mata pencaharian.

Bacaan Lainnya

Langkah Awal dari Rasa “Tak Mau Kalah”

Cerita berawal pada tahun 2008. Ayah Saiful bernama Muhammad Muhdi merintis budidaya tanaman Indigofera, warisan vegetasi pewarna alami yang memiliki riwayat sejarah sejak era kolonial Belanda. Sang ayah mengolah daun-daun tersebut menjadi pasta pewarna nila untuk dijual kepada para pengrajin batik di Jogja, Pekalongan, hingga Solo.

BACA JUGA  Pemerintah "Hanya" Alokasikan Rp6,3 Triliun untuk IKN pada 2026

Tahun 2010, Saiful yang sebelumnya mengadu nasib sebagai sopir di Jakarta harus pulang ke kampung halaman. Tanpa pekerjaan, ia memutuskan membantu sang ayah. Saiful muda bertugas menjual pasta pewarna secara door-to-door.

“Dulu saya jualan pewarna tapi enggak tahu cara pakainya,” kenang Saiful.

Tak ingin sekadar menjadi penjual bahan baku, Saiful mulai berguru pada para pengrajin batik dan sibori di berbagai daerah. Ia belajar teknik pencelupan hingga akhirnya memberanikan diri membuka usaha celup kain pada 2011.

BACA JUGA  Awal Ramadan, Harga Cabai Rawit Tembus Rp105 Ribu

Perjalanan bisnis tak selalu mulus. Pasta pewarna alami sering ditawar dengan harga tak wajar. Dari impitan itulah, naluri bisnis Saiful lahir.

Pos terkait