“Kalau pakai pewarna sintetis kan tinggal beli terus pakai. Tapi kalau ini, kita mulai dari bibit pewarna itu sendiri yakni tanaman indigofera, bekerja sama dengan petani: panen, kita beli, sampai jadi pewarna. Semua melibatkan warga sekitar,” ungkapnya.
Filosofi Jenama Tinctori

Label Tinctori, tak hanya sekedar pelabelan untuk sebuah produk yang dihasilkan. Saiful terinspirasi dari nama tanaman yang merupakan bahan baku pewarnaan alami yang dipakai untuk setiap produknya. Indigofera tinctoria adalah tanaman indigofera tertua di dunia.
Menjadi tanaman indigofera tertua, namun manfaatnya hingga saat ini masih dirasakan, termasuk bagi Saiful, yang berguna untuk mewarnai setiap karya yang ia tawarkan.
“Inspirasi nama dari daun indigofera yang paling tua ini yang kami jadikan brand (jenama) untuk produk kami. Harapannya produk kami bisa terus bermanfaat sampai kapan pun,” ungkap saiful.
Menembus Pasar Digital hingga Mancanegara

Berada di lokasi yang terpelosok, yakni di kaki Gunung Telomoyo dan Gunung Kelir, itu sempat membuat Saiful ragu. “Kami tinggal di pojokan. Kalau bikin toko offline di sini, siapa yang mau beli?” katanya.
Strateginya lantas berbelok ke ranah digital. Pada 2021, Tinctori mulai menjajal peruntungan di lokapasar atau marketplace Shopee. Produk pertama yang dijual sangat sederhana, yakni tali sepatu dan tali masker batik pewarna alami seharga Rp3.000 serta perca kain patchwork.
Perlahan tapi pasti, pasar merespons hangat. Dari produk aksesori kecil, Tinctori berkembang meluncurkan kemeja batik tulis uniseks, outer, hingga jaket perca eksklusif seharga jutaan rupiah.


















