“Pewarna kalau dijual enggak laku, ya kita aplikasikan sendiri ke kain. Kalau kainnya enggak laku, bagaimana caranya kami bikin jadi baju. Intinya lebih ke enggak mau kalah. Ketika mentok di satu titik, cari opsi lain,” tutur Saiful.
Tekad tak mau kalah itu berbuah manis. Pada 2021, lahir lini ready to wear Tinctori yang mengusung slogan “From Garden to Garment” (dari kebun sampai ke busana).
Merangkul Desa, Memberdayakan Keluarga

Bagi Saiful, Tinctori bukan sekadar entitas bisnis pencari untung. Tinctori adalah perusahaan berbasis komunitas. Menolak menggunakan pewarna sintetis yang instan, Tinctori memilih jalur panjang pewarnaan alami karena satu alasan kuat yakni memberdayakan orang banyak.
Untuk menciptakan satu potong pakaian dibutuhkan waktu hingga enam bulan. Prosesnya dimulai dari pembibitan selama 1 bulan, penanaman di ladang selama kurang lebih 4 bulan, pengolahan pasta selama 1 minggu, hingga proses pembuatan batik dan pencelupan berkali-kali selama 2 minggu.
Panjangnya rantai produksi ini justru menjadi keran rezeki bagi warga lokal. Saat ini, Tinctori mengelola sekitar 15–20 hektare lahan indigofera yang tersebar dan bermitra dengan petani setempat.
Ada 60 tenaga kerja tetap (on site) yang terbagi dalam empat bagian, yakni divisi kebun, batik, pencelupan, dan divisi garmen.
Uniknya, setengah dari pekerja tersebut adalah kerabat Saiful dan tetangga sekitar. Latar belakang mereka beragam, mulai dari petani, mantan pekerja garmen, pembatik, hingga lulusan tata busana. Karena wilayah setempat tak memiliki sejarah membatik, Saiful mendatangkan pelatih dari Klaten untuk mengajari warga dari nol.


















