Gunung Ungaran Akan Dibor Demi Dapatkan Listrik

Gunung Ungaran (foto: YouTube Ery Channel Alam)
Gunung Ungaran (foto: YouTube Ery Channel Alam)
  • Pemanfaatan panas bumi Gunung Ungaran berkapasitas 55 MW masih dalam tahap awal perizinan
  • Tahapan izin lingkungan dipastikan melibatkan masukan warga dan LSM melalui forum konsultasi publik
  • Pengeboran eksplorasi ditargetkan mulai akhir 2028 atau awal 2029

MATASEMARANG.COM – Rencana pemanfaatan potensi panas bumi di kawasan Gunung Ungaran yang meliputi Kabupaten Semarang dan perbatasan Kabupaten Kendal dipastikan belum akan memasuki tahap pengeboran dalam waktu dekat.

Proyek strategis nasional yang diproyeksikan menghasilkan daya listrik sebesar 55 megawatt (MW) tersebut masih harus melampaui serangkaian perizinan ketat, penyusunan kajian lingkungan, serta proses konsultasi publik bersama warga setempat.

BACA JUGA  Link Pendaftaran Haji dan Umrah Gratis Ternyata Hoaks, Kemenag: Awas “Pishing”

Kepala Bidang Energi Baru Terbarukan (EBT) Dinas ESDM Jawa Tengah Dwi Suryono menegaskan bahwa penunjukan pendelegasian Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Ungaran kepada PT PLN (Persero) melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 134.TK/EK.04/MEMBPE/2026 baru merupakan tahapan awal administrasi.

Bacaan Lainnya

“Perizinan yang sudah dimiliki tidak serta-merta bisa langsung melakukan kegiatan,” tegas Dwi Suryono dalam konferensi pers di Rumah Rakyat, Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kota Semarang, Rabu (26/8/2026).

BACA JUGA  1.750 Pekerja Kota Semarang Kena PHK

Dwi menjelaskan, pengembang proyek di kawasan seluas 29.800 hektare tersebut diwajibkan menyelesaikan sejumlah dokumen perizinan lingkungan dan tata ruang utama:

  • KKPR: Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang
  • PPKH: Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan
  • Amdal: Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (melalui mekanisme public hearing bersama tokoh masyarakat, pemangku kepentingan, dan LSM)

Jika seluruh proses perizinan berjalan lancar, tahap pengeboran eksplorasi dengan target kedalaman 1.900 hingga 2.200 meter dijadwalkan baru dimulai pada akhir 2028 atau awal 2029. Proyek bernilai investasi sekitar 300 juta dolar AS ini ditargetkan mulai beroperasi secara komersial (commercial operation date/COD) pada tahun 2031 untuk memasok sistem jaringan interkoneksi Jawa, Madura, dan Bali (Jamali).

Pos terkait