Vance juga menegaskan bahwa tawaran yang diajukan AS dalam perundingan terbaru merupakan tawaran final dan terbaik.
“Kami meninggalkan tempat ini dengan usulan yang sangat sederhana, sebuah metode pemahaman yang merupakan tawaran final dan terbaik kami,” ujarnya di Islamabad usai perundingan.
Ia kembali menekankan bahwa posisi AS telah disampaikan secara jelas dalam negosiasi tersebut.
“Kami telah menjelaskan dengan sangat jelas apa saja garis merah kami, hal-hal yang dapat kami akomodasi dan yang tidak dapat kami akomodasi, dan kami telah menyampaikannya sejelas mungkin, namun mereka memilih untuk tidak menerima syarat kami,” kata Vance.
Iran dan AS menggelar pembicaraan di Islamabad pada Sabtu (11/4), setelah Presiden AS Donald Trump pada Rabu (8/4) malam mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan dengan Teheran.
Iran dan AS sebelumnya dilaporkan mencapai kesepahaman dalam sejumlah isu, namun berbeda pandangan pada dua hingga tiga isu penting, sehingga perundingan di Islamabad tidak menghasilkan kesepakatan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan perbedaan tersebut menjadi alasan utama kegagalan perundingan.
“Kami mencapai kesepahaman dalam sejumlah isu, namun pandangan kami berbeda pada dua atau tiga isu penting, dan pada akhirnya pembicaraan tidak menghasilkan kesepakatan,” kata Baghaei seperti dikutip kantor berita Mehr, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut terkait isu penting yang masih menjadi ganjalan kedua pihak. [Ant/ Sputnik/RIA Novosti-OANA]


















