“Konsep programnya harus jelas, ada indikatornya, dan beberapa wilayah sudah melakukan,” ucapnya.
Ia menambahkan, untuk memperkuat literasi amil, para petugas Lazismu dapat membaca program Astacita, yang sangat terkait dengan program-program Lazismu, termasuk di butir ketiga yaitu penciptaan lapangan kerja berkualitas dan pengembangan kewirausahaan, serta butir keenam, yakni pembangunan dari desa untuk pemerataan ekonomi.
“Hal itu sangat relevan dengan visi dan misi Lazismu, dan sudah bertahun-tahun kita mengintegrasikan formula ide dan aksinya ke dalam pembangunan berkelanjutan yang menempatkan Lazismu sebagai pelengkap program-program pemerintah,” ujar Hilman.
Hilman menyatakan, Lazismu senantiasa terbuka untuk memperkuat ekosistem dampingan pemberdayaan masyarakat seperti di peternakan, pertanian dan perikanan.
“Harus sudah mulai dirancang, diperkuat serta diintegrasikan dengan program saat ini. Tidak sekadar bangga tapi berdampak dan bermanfaat luas,” katanya.
Sedangkan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Selatan, Ridhahani Fidzi selaku tuan rumah Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lazismu 2025 turut mengapresiasi upaya Muhammadiyah yang melibatkan banyak pelaku usaha kecil sebagai komitmen pemberdayaan dan menggerakkan roda ekonomi.
Ridhahani berharap, Rakernas tersebut dapat memperkuat komitmen Lazismu untuk meningkatkan kepedulian kepada umat.
“Di Kalimantan Selatan sendiri, potensi zakatnya mencapai Rp 1,4 triliun, sementara yang tersentuh baru sekian persen. Masing-masing wilayah diharapkan dapat terus memperkuat jaringan dan kualitas untuk pengelolaan ZISKA yang lebih baik,” tuturnya. (Ant)


















