“Memang PR-nya cukup berat karena melibatkan banyak faskes dan butuh kedisiplinan tinggi dalam menginput data obat. Namun, kami akan memberikan kontribusi berupa mapping (pemetaan). Kami akan beri tahu apotek di wilayah mereka, penyakit apa yang paling banyak diderita warga sekitar. Jadi, stok obat yang disediakan apotek, baik untuk penyakit akut maupun kronis bisa tepat sasaran dan tidak menumpuk sia-sia karena tidak dibutuhkan,” jelas Hakam.
Hakam mengatakan bahwa konsep integrasi stok obat sekota ini bahkan sangat langka di tingkat global.
“Ternyata konsep yang kita bangun ini di Indonesia belum ada. Di tingkat global, sistem serupa setahu kami baru ada di Kota Sanya, bagian selatan Kota Hainan, Tiongkok. Semoga ini bisa menjadi inspirasi bagi kabupaten dan kota lain di seluruh Indonesia,” pungkasnya.


















