Bagaimana Seharusnya Sikap Umat Merespons AI? Begini Menurut Ulama

Quraish Shihab
Quraish Shihab. Dok. MUI via Antara

Dari situ, menurut Quraish, ada satu putusan yang dibenarkan, yaitu dari orang yang mendapatkan anugerah dari Tuhan, baik dalam bentuk ilmu, intuisi, atau lainnya.

“Nilai lainnya, keputusan atau jawaban apa pun harus disesuaikan dengan masa (waktu) dan penanya tentang apa problemanya. Kalau kita kembali ke Al Quran dan Sunnah, Nabi sering kali memberi jawaban yang berbeda-beda terhadap pertanyaan yang sama,” ujar Quraish.

“AI tidak mengenal saya yang bertanya, tidak mengenal problema saya, bagaimana dia mau menjawab dengan tepat,” kata Quraish.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Nuzulul Qur'an, Doa Khusus Quraish Shihab untuk Prabowo

Eksistensi Agama Terjaga

Sementara itu, Anggota Komite Eksekutif MHM TGB Abdul Majdi menggarisbawahi bahwa pembahasan yang berkembang tentang AI itu berkenaan dengan otoritas keagamaan, bukan tentang eksistensi agama. Sebab, eksistensi agama itu terjaga.

Selain itu, AI juga tidak mengganggu eksistensi manusia sebagai khalifah.

“Manusia sebagai jenis makhluk Allah yang diciptakan di dunia ini, dia akan selalu menjadi khalifah, dengan semua makna yang terkandung dalam makna khalifah,” kata TGB sebagaimana dikutip Antara.

TGB Zainul Majdi merasa saat ini muncul kekhawatiran manusia, bahwa AI dianggap sebagai ancaman eksistensial. Ada kegundahan bahwa AI akan mengambil alih kemampuan berpikir kreatif.

BACA JUGA  Harga RAM Serampangan, AI Bikin Manusia Jadi Figuran Teknologi

Hayawanun Nathiq dalam konsep Islam itu tidak hanya berpikir kreatif dalam konsep kognisi, tapi juga hikmah, spirituality. Jadi hayawanun nathiq bukan hanya kemampuan kognisi yang mungkin kita sudah kalah dari AI, tapi ada kemampuan lain yang disiapkan oleh Allah untuk manusia miliki sebagai khalifah,” kata dia.

Pos terkait