Sebagai solusi, Agustina telah menyiapkan skema ritase yang lebih disiplin dengan dukungan infrastruktur yang lebih kuat. Kapasitas kontainer di lokasi akan ditambah untuk memastikan semua sampah terakomodasi tanpa harus meluber ke tanah.
“Pemkot Semarang akan menyiapkan empat kontainer dan empat armada armroll yang masing-masing melayani tiga ritase per hari. Jadi total akan ada 12 ritase harian. Saya juga minta setiap hari setidaknya ada satu unit dump truck yang bertugas ‘membilas’ sisa-sisa sampah yang tercecer agar kondisi lahan tetap bersih, rata, dan rapi,” tuturnya.
Mengenai ketertiban, pihaknya memberikan imbauan keras kepada pengguna kendaraan roda empat atau pikap yang sering menyalahgunakan fungsi TPS. Menurutnya, kapasitas kontainer yang sangat terbatas hanya diperuntukkan bagi volume sampah rumah tangga yang diangkut oleh petugas resmi lingkungan.
“TPS itu Tempat Pembuangan Sementara yang diperuntukkan bagi petugas gerobak, becak sampah, atau motor roda tiga. Untuk mobil pikap atau kendaraan roda empat lainnya, wajib langsung buang ke TPA Jatibarang, jangan di TPS, sebab seberapa banyak pun kontainer yang kami siapkan akan cepat penuh,” tegasnya.
Selain itu, dirinya juga mengajak seluruh warga Kota Semarang untuk kembali menumbuhkan kedisiplinan kolektif dalam menjaga kebersihan lingkungan. Dia menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah membutuhkan dukungan aktif dari masyarakat.
“Mari kita jaga bersama kebersihan lingkungan demi kesehatan dan kenyamanan kita semua. Kalau ini berjalan seiring, saya yakin Kota Semarang akan lebih bersih, sehat, nyaman, dan berkelanjutan,” tandasnya.

















