- Bagi Arief, pilihan menjadi pengemudi taksi daring tidak pernah dianggap sebagai sesuatu yang memalukan
MATASEMARANG.COM – Jenis pekerjaan apa pun adalah mulia sepanjang tidak melanggar hukum dan norma agama. Meski menyandang profesi dosen — status sosial tinggi di mata banyak orang — staf pengajar di UIN Walisongo ini tidak merasa rendah ketika harus nyambi sebagai pengemudi ojek online alias ojol.
Dosen yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai pengemudi taksi daring itu adalah Arief Ajie Pamungkas Emnoor, yang baru saja meraih gelar doktor Program Studi Islam UIN Walisongo Semarang.
Menurut Arief di Semarang, Selasa, capaian tersebut merupakan buah dari perjuangan panjang menyeimbangkan peran sebagai akademikus, kepala keluarga, sekaligus pencari nafkah tambahan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Prinsip saya, keluarga adalah segalanya. Saya harus bertanggung jawab tanpa mengorbankan pihak mana pun, baik keluarga maupun tempat kerja,” katanya.
Menurut dia, pilihan menjadi pengemudi taksi daring tidak pernah dianggap sebagai sesuatu yang memalukan.
Studi Kasus Habib Jindan
Dalam promosi doktor tersebut, Arief menyusun disertasi berjudul “Retorika Dakwah Digital: Studi Kasus Habib Jindan”.
Penelitian itu, kata dia, bertujuan menganalisis eksistensi dakwah Habib Jindan di tengah kontroversi terkait nasab habaib, mengkaji retorika dakwah digital yang digunakannya, mengidentifikasi faktor-faktor di luar kerangka retorika klasik, serta merumuskan model retorika dakwah digital berdasarkan temuan penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksistensi dakwah Habib Jindan dipertahankan melalui rekonstruksi nasab sebagai amanah dan tanggung jawab moral, penguatan otoritas keilmuan dan moral, kritik internal, serta kontekstualisasi kontroversi sebagai materi dakwah.

















