Kekurangan Murid di Pusat Kota Disinyalir karena Fenomena Sosial Ekonomi Bukan Menurunnya Angka Kelahiran

Kepala Disdukcapil Kota Semarang, Yudi Hardianto Wibowo
Kepala Disdukcapil Kota Semarang, Yudi Hardianto Wibowo

MATASEMARANG.COM – Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2025 di Kota Semarang selesai diadakan termasuk SPMB lanjutan untuk jenjang TK dan SD.

SPMB lanjutan ini sengaja diadakan karena masih ada sekitar 2.300an bangku yang masih kosong dari 222 Sekolah Dasar (SD) Negeri di Kota Semarang.

Ribuan kuota yang kosong tersebut rata-rata berada di tengah kota Semarang. Sedangkan sekolah yang berada di pinggiran kota memiliki kuota siswa penuh.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Komisi C Desak Pemkot Siapkan Lahan Produktif Pengganti yang Akan Dibangun Sekolah Rakyat

Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Semarang, Yudi Hardianto Wibowo mengatakan tidak banyaknya anak-anak usia sekolah di tengah kota bukan karena angka perkawinan maupun angka kelahiran di Semarang menurun.

Menurutnya, hal itu adalah fenomena sosial ekonomi bahwa penduduk usia produktif relatif berdomisili di perumahan yang ada di pinggiran kota dan hinterland.

Ia menilai pasangan suami istri (pasutri) muda saat ini memilih tinggal di pinggiran kota dan hinterland karena dari sisi harga yang lebih terjangkau dibanding di pusat kota.

BACA JUGA  BS Sami Berkah, Tempat Warga Meteseh Ubah Sampah Jadi Cuan

“Rumah subsidi juga ada di pinggiran kota seperti cangkiran dan boja karena menurut saya terkait dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat disamping juga lifestyle, jadi usia2 produktif tidak banyak di pusat kota, ini yang mungkin membuat sekolah di tengah kota sepi peminat,” kata Yudi saat ditemui di kantornya, Kamis (10/7/2025).

Ia mengatakan angka perkawinan di Kota Semarang memang relatif stagnan. Pada tahun 2022 ada 1.130, tahun 2023 ada 985, tahun 2024 ada 910 dan tahun 2025 hingga Juni ini ada 289 angka perkawinan.

Pos terkait