- Laju penurunan muka tanah di kawasan Stadion Hoegeng mencapai 33 sentimeter sejak Maret 2020
- Kemitraan Indonesia menggelar program Sekolah Iklim yang melibatkan 30 pelajar dari 10 SMA/SMK se-Kota Pekalongan
MATASEMARANG.COM – Fenomena penurunan muka tanah (land subsidence) menjadi ancaman lingkungan serius yang membayangi keberlanjutan Kota Pekalongan.
Pemerintah Kota Pekalongan mendorong generasi muda untuk mengambil peran aktif melahirkan inovasi penghematan air serta aksi adaptasi perubahan iklim.
Jabatan Fungsional (JF) Perencana Muda Bapperida Kota Pekalongan Dyah Wahyuningrum mengungkapkan bahwa hasil pemantauan di titik patok Stadion Hoegeng mencatat penurunan tanah telah mencapai 33 sentimeter sejak Maret 2020 hingga Oktober 2026.
“Penyebab utama penurunan tanah di Kota Pekalongan ada tiga, yakni kondisi alamiah tanah yang masih muda dan lunak, pembebanan bangunan sipil, serta pengambilan air tanah. Saat ini laju penurunan tercatat sekitar 5–6 sentimeter per tahun,” terangnya, Jumat, 9 Oktober 2026.
Dyah menjelaskan, Bapperida Kota Pekalongan kini memantau enam titik patok tetap di empat kecamatan.
Pemkot juga tengah merancang konsep Integrated Water Resources Management (IWRM) atau pengelolaan sumber daya air terpadu guna beralih memanfaatkan air sungai sebagai pasokan air baku alternatif.
Guna mempercepat sosialisasi adaptasi lingkungan, Kemitraan Indonesia menggelar program Sekolah Iklim berbasis pembelajaran lapangan.
Project Officer Comdev Program Adaptation Fund Kemitraan Indonesia Eva S. Nisa membeberkan bahwa sebanyak 30 pelajar dari 10 sekolah menengah atas diajak meninjau langsung patok penurunan tanah di Stadion Hoegeng, TPS-3R Padukuhan Kraton, dan kawasan konservasi Pekalongan Mangrove Park (PMP).

















