“Setiap pemasok punya lima sampai 15 pekerja. Ini efek berantai yang luar biasa,” ujarnya.
Ketika Steve bertanya mengenai prospek investasi asing, Presiden menyatakan bahwa Indonesia adalah negara dengan fundamental ekonomi yang kuat dan terus tumbuh.
“Kalau orang punya uang, mereka akan membeli sepatu, pakaian, memperbaiki rumah, membeli motor, televisi semua itu mendorong ekonomi riil,” katanya.
Selain sektor konsumsi, Kepala Negara juga menyoroti potensi besar sumber daya mineral kritis Indonesia, salah satunya nikel. Indonesia merupakan penghasil nomor satu di dunia, serta memiliki cadangan besar bauksit, tembaga, dan mineral strategis lainnya.
“Masih banyak ruang untuk investasi baru, terutama di bidang eksplorasi dan pengeboran minyak dan gas. Kita memiliki sekitar 30.000–40.000 sumur tua yang dengan teknologi baru bisa ditingkatkan hasilnya,” katanya.
Menurutnya, di tengah kondisi global yang penuh tantangan termasuk krisis energi dan stagnasi ekonomi di berbagai negara Indonesia justru tampil sebagai salah satu ekonomi yang tetap tumbuh stabil di kisaran 5 persen per tahun.
“Banyak negara yang tumbuh hanya 1 atau 2 persen, bahkan ada yang tidak tumbuh sama sekali. Indonesia beruntung memiliki sumber daya besar, tapi tentu kita tidak boleh puas. Kita harus kelola dengan lebih baik,” ujarnya.
Forum ini dihadiri oleh sekitar 400 peserta yang terdiri atas CEO, wirausahawan, dan investor dari berbagai negara, menjadi wadah penting untuk membahas arah perekonomian dunia di tengah dinamika global yang terus berkembang.


















