“Jika ketegangan terus berlanjut, China bisa menolak meminjamkan panda baru dan panda mungkin takkan lagi terlihat di Jepang,” kata seorang pakar seperti dikutip Beijing Daily.
Sejumlah pengamat menyebut situasi itu sebagai “sanksi panda.”
Mengingat popularitasnya di Jepang, panda mungkin akan digunakan sebagai “kartu diplomatik” oleh China untuk memaksa Takaichi mencabut pernyataannya.
Pada 2011, meski terjadi krisis diplomatik, China tetap meminjamkan Ri Ri dan Shin Shin kepada Jepang.
Karena itulah, Pemerintah Metropolitan Tokyo tetap berencana mengajukan permohonan untuk meminjam panda baru.
“Kami tengah berkomunikasi dengan Asosiasi Konservasi Satwa Liar China — bukan dengan pemerintah China — untuk upaya pelindungan satwa dan riset,” kata seorang pejabat. “Kami tak tahu seberapa besar aspek politiknya ikut terlibat.”
Upaya mendatangkan panda bukan hanya urusan pemerintah, tetapi juga sektor swasta. Hal itu diungkapkan Yukinori Yokomi, Sekretaris Jenderal Asosiasi Persahabatan Jepang-China.
“Panda adalah duta perdamaian Jepang dan China,” kata dia, seraya memperingatkan kemungkinan hilangnya kegiatan pertukaran (exchange events) di antara kedua negara.
Kekhawatiran juga diungkapkan oleh para pecinta panda.
“Panda adalah hewan spesial yang membuat hati tenang saat melihatnya,” kata seorang pria 42 tahun asal Kyoto yang sedang mengunjungi Ueno bersama putrinya.
Dia mengaku memahami kompleksitas hubungan diplomatik Jepang-China, tetapi berharap panda tetap berada di Ueno “demi anak-anak yang menantikan kehadiran mereka.”
“Aku sedih kalau panda-panda yang lucu itu menghilang,” kata putrinya yang berusia lima tahun sembari memeluk boneka panda.
(Ant/Kyodo)














