Faktor kedua yang bisa dikendalikan. Menurut dia, peningkatan tekanan darah sebagai penyebab utama (56 perse); obesitas (24 %); kadar gula darah tinggi (20 %); pola makan yang buruk (31 %); kolestrol LDL yang tinggi (10 %); gangguan fungsi ginjal (8 %). Selain itu juga polusi udara (20 %); kebiasaan merokok (18 %); menenggak minuman beralkohol (6 %); dan aktivitas fisik yang kurang (2 %).
Karena penyebab stroke sudah dikenali maka ada sejumlah tindakan pencegahan yang bisa dilakukan. Dokter Wisnu meringkas tindakan pencegahan dengan akronim ringkas dan mudah diingat: CERDIK
1. Cek kesehatan secara rutin
2. Enyahkan asap rokok
3. Rajin aktivitas rutin
4. Diet seimbang
5. Istirahat cukup
6. Kelola stres
Dokter Wisnu mengingatkan bahwa stroke merupakan kegawatan sehingga pengenalan segera gejala stroke oleh diri dan keluarga amat penting. “Gejala stroke pasti terjadi mendadak sehingga harus segera dibawa ke rumah sakit. Jangan ditunda!” katanya mengingatkan.
Ia memaparkan “periode emas” penanganan penderita stroke. Ketika mendapati gejala stroke, kurang dari 2 jam harus dibawa ke IGD rumah sakit untuk mendapatkan penanganan dan obat.
Begitu masuk IGD, pasien harus langsung mendapatkan penanganan dokter, mulai dari CT scan, laboratoium, dan obat. Paling lama 2,5 jam harus tuntas sehingga pasien bisa diselamatkan menuju proses pemulihan di kemudian hari.
Jadi, sejak pasien dikenali terkena serangan stroke hingga penanganan kegawatdaruratan oleh paramedis, hanya tersedia waktu 4,5 jam.
“Inilah golden period untuk penyelamatan pasien dari serangan stroke,” tegas dr. Wisnu.

















