“Lima hari sekolah ini sudah berlangsung lama. Belum ada kendala-kendala yang signifikan. Ini mah real, bukan wacana,” kata Budi.
Namun demikian, ia menegaskan setiap kebijakan tetap perlu dikaji secara mendalam dengan mempertimbangkan masukan masyarakat serta kondisi di lapangan.
Jika suatu saat diperlukan perubahan mendasar, kajian dan uji coba tetap menjadi tahapan penting. Ia mencontohkan proses transisi dari enam hari menjadi lima hari sekolah yang sebelumnya juga melalui uji coba.
“Uji coba itu penting untuk melihat apa kendalanya,” ujarnya.
Hingga saat ini, pelaksanaan lima hari sekolah di Kota Semarang dinilai cukup efektif. Selain efisiensi pembelajaran, kebijakan ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk memiliki waktu bersama keluarga. Ia menilai peran keluarga sangat penting dalam pendidikan karakter dan moralitas anak.
“Keluarga harus betul-betul menangani pendidikan karakter, tidak diserahkan sepenuhnya kepada sekolah,” tuturnya.
Dari sisi kenyamanan guru dan lingkungan belajar, kondisi di Kota Semarang disebut relatif kondusif. Ia menambahkan bahwa tidak ada gejolak maupun kasus signifikan sebagaimana yang terjadi di beberapa daerah lain.
“Di media sosial kita lihat, di kota lain ada yang terkena bullying dan sebagainya. Di Semarang layanan pendidikan masih bagus,” jelasnya.
Dengan stabilnya pelaksanaan lima hari sekolah dan dukungan berbagai pihak, ia menilai layanan pendidikan di Kota Semarang saat ini berada dalam kondisi baik dan tetap layak dipertahankan.


















