MATASEMARANG.COM – Penyanyi dan publik figur Ashanti Hastuti meraih gelar doktor di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Istri penyanyi Anang Hermansyabh berhasil mempertahankan disertasi tentang adaptasi penyanyi Generasi Baby Boomers dan Generasi X menghadapi transformasi digital industri musik Indonesia.
“Alhamdulillah setelah melewati perjuangan panjang berkat promotor saya yang luar biasa ini. Kalau bukan karena Pak Suko mungkin aku enggak selesai dari sini. Selalu memotivasi, selalu memberikan energi positif bahwa tidak boleh menyerah, harus berjuang sampai titik akhir,” kata Ashanti usai sidang terbuka di kampus Unair Surabaya, Jawa Timur, Rabu.
Dalam sidang terbuka Program Studi Doktor Pengembangan Sumber Daya Manusia Sekolah Pascasarjana Unair itu, Ashanti mempertahankan disertasi berjudul “Respons Adaptif Penyanyi Baby Boomers dan Generasi X terhadap Transformasi Digital di Industri Musik Indonesia.”
Ashanti mengatakan perjalanan menyelesaikan pendidikan doktor bukan hal mudah karena harus membagi waktu di tengah aktivitas sebagai penyanyi, istri, ibu, hingga nenek.
“Ditolak judul empat kali. Judul pertama ditolak, kedua, ketiga, bahkan saya sudah publikasi juga, tapi ditolak lagi. Jadi judul keempat baru diterima,” ujarnya.
Ia mengaku tantangan pendidikan doktor terasa berat karena tetap harus menjalankan berbagai tanggung jawab di dunia hiburan dan keluarga.
“Aku sangat bangga buat orang-orang yang masih mau belajar di umur yang mungkin sudah tidak muda lagi. Aku juga kesibukan istri, ibu, nenek, kerjaan banyak, ikut lomba dan banyak hal, tapi tetap berusaha bagaimana harus selesai dengan baik,” katanya.
Ashanti berharap hasil penelitiannya dapat memberi kontribusi bagi industri musik Indonesia, khususnya terkait kemampuan musisi lintas generasi beradaptasi di era digital.
“Semoga bisa berguna buat industri musik Indonesia. Walaupun terlihat hanya perbandingan antara baby boomers dan Gen X dalam beradaptasi di digital, tapi yang dibahas dan dibedah banyak sekali,” ucapnya.
Promotor Ashanti, Dr. Suko Widodo, menegaskan tidak ada perlakuan khusus selama proses akademik berlangsung meski Ashanti merupakan figur publik.
“Saya kira tidak ada kompromi. Mau artis, mau anak presiden, apa pun dalam pengetahuan saya sama haknya. Ashanti telah memenuhi kedisiplinan sebagai seorang akademisi dan konsisten,” ujar Suko.
Menurut dia, penelitian Ashanti menarik karena mengangkat perjuangan penyanyi senior menghadapi perubahan digital dalam industri musik Indonesia.
“Bayangkan siapa yang memikirkan seorang Rafika Duri, seorang Rhoma Irama harus berhadapan dengan anak-anak muda dalam dunia digital. Kelihatannya simpel, tapi coba baca dulu disertasinya 300 halaman,” katanya.
Suko menilai kekuatan penelitian tersebut terletak pada pendekatan storytelling dan dokumentasi pengalaman para musisi senior yang selama ini jarang tercatat dalam kajian akademik.
“Hal paling penting bagi Ashanti adalah autentifikasi dari orang-orang yang memang layak diapresiasi. Di Indonesia, histori akademis pribadi seperti itu relatif belum ada dan dia lakukan itu,” ujarnya.
Ashanti Sah Sandang Gelar Doktor


















