Sementara itu, surplus neraca perdagangan turun menjadi 0,95 miliar dolar AS pada Januari 2026 dari sebelumnya 3,49 miliar dolar AS pada Januari 2025, akibat kenaikan impor sebesar 18,21 persen (yoy) dan ekspor hanya tumbuh 3,39 persen (yoy).
Selanjutnya, data Manufacturing PMI Indonesia masih tumbuh di level 53,8 pada Februari 2026, dari sebelumnya di level 52,6 pada Januari 2026, terutama karena kenaikan permintaan domestik.
Dibuka melemah, IHSG betah di teritori negatif hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, satu sektor menguat yaitu sektor energi yang menguat sebesar 1,70 persen.
Sementara itu, sepuluh sektor terkoreksi dimana sektor barang konsumen non primer turun paling dalam sebesar 7,41 persen, diikuti sektor industri dan sektor infrastruktur yang turun masing-masing minus 5,38 persen dan 4,34 persen.
Sedangkan Adapun saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu OILS, ENRG, RUIS, APEX, dan ELSA. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan harga terbesar yakni TRUE, BUVA, BNBR, BELL, dan MINA.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 3.652.154 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 56,60 miliar lembar saham senilai Rp29,83 triliun. Sebanyak 108 saham naik, 671 saham menurun, dan 41 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei melemah 793,10 poin atau 1,35 persen ke 58.057,19, indeks Shanghai menguat 19,70 atau 0,47 persen ke 4.182,58, indeks Hang Seng melemah 570,68 poin atau 2,14 persen ke 26.059,84, indeks Kuala Lumpur melemah 16,40 poin atau 0,96 persen ke 1.700,21, dan indeks Strait Times melemah 104,20 poin atau 2,09 persen ke 4.890,85.

















