“Kami ingin menarik minat generasi muda dengan memasukkan teknologi digital seperti Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI). Nanti pemberian pakan bisa otomatis, begitu juga dengan penghitungan pH air dan kadar amonia. Semua berbasis teknologi,” jelasnya.
Selain modernisasi budidaya, pihaknya juga merombak fungsi Balai Benih Ikan (BBI). Tempat yang semula hanya memproduksi benih, kini disulap menjadi pusat pendidikan atau Edu Fishery, di mana masyarakat bisa belajar langsung mengenai cara budidaya ikan yang baik.
Sebagai langkah awal, program Sunfish telah melahirkan proyek percontohan bernama Kampung Buleni (Kampung Budidaya Lele dan Nila) Siroto yang terletak di Kecamatan Gunungpati.
Konsep yang diusung di Kampung Buleni ini adalah integrasi dari hulu hingga hilir mulai dari proses pemijahan dan pembesaran ikan, pengolahan dan penjualan produk kuliner matang, hingga pengembangan kawasan menjadi destinasi wisata edukasi.
“Kemarin kami dibantu oleh BRIDA yang membangunkan 30 kolam bis beton untuk konsep budidaya skala rumah tangga. Dukungan dari pihak swasta seperti Karang Turi juga luar biasa untuk pengembangan kedainya,” terangnya.
Meski tidak semua kelurahan akan langsung mendapatkan program ini karena harus memenuhi indikator prioritas, seperti ketersediaan sumber air dan antusiasme warga, program Sunfish dipastikan akan terus dikembangkan.
Langkah ini juga mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng. Ke depan, stimulan yang diberikan kepada Pokdakan tidak lagi bersifat sekadar bantuan kecil, melainkan bantuan berskala ekonomi yang mampu menumbuhkan konsep usaha baru.

















