Wali Kota Semarang Ajak Warga Ciptakan Lingkungan Bebas “Bullying” bagi Anak-Anak

puncak peringatan HAri Anak Nasional 2026 di Kota Semarang (matasemarang.com/Lia Dina)
puncak peringatan HAri Anak Nasional 2026 di Kota Semarang (matasemarang.com/Lia Dina)

MATASEMARANG.COM – Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di Kota Semarang berlangsung meriah dan penuh energi. Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng, mengaku sangat kagum dan terharu melihat dedikasi serta semangat ratusan anak-anak yang tampil di atas panggung halaman Balai Kota Semarang, Selasa, 28 Juli 2026 petang.

“Meriah ya, dan anak-anak itu dedicated banget. Mereka latihan lama, melibatkan ratusan anak, dan bisa mengintegrasikan diri dengan sangat baik. Lihat saja, acara sudah selesai tapi mereka masih ingin di atas panggung. Wah, luar biasa ini!” kata Agustina ditemui usai acara.

BACA JUGA  Pemkot Semarang Sasar Lebih dari 300 Ribu Pelajar Ikuti Cek Kesehatan Gratis

Agustina menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh anak-anak yang terlibat. Menurutnya, keceriaan dan semangat yang ditunjukkan generasi muda ini menjadi energi tambahan bagi kemajuan Kota Semarang. Ia juga berharap momen positif ini bisa disebarluaskan oleh media dan masyarakat ke media sosial.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Tiga Aktor Pembunuh Kacab Bank BUMN Ditangkap di Solo

“Kalau keceriaan mereka ini viral di media sosial, energinya akan menular kepada anak-anak lain. Anak-anak yang mungkin hari ini masih mengurung diri, atau yang tadi dicontohkan masih suka mem-bully temannya, berangsur-angsur sikap itu akan hilang,” ujarnya.

Di balik kemeriahan acara, Wali Kota Semarang juga memberikan perhatian serius terhadap kasus-kasus kekerasan dan perundungan (bullying) anak yang masih terjadi di Kota Semarang. Menurutnya, kendala terbesar saat ini adalah masalah keterbukaan dan respons dari lingkungan sekitar.

BACA JUGA  Ratusan Mobil Volkswagen Siap Banjiri Semarang dalam Event Telur 6

Agustina membedakan kendala penanganan bullying menjadi tiga aspek yakni anak-anak korban perundungan sering kali tidak berani mengadu (speak up). Kemudian ketika anak sudah berani mengadu, terkadang tidak ada respons cepat dari orang dewasa di sekitarnya.

Pos terkait