Kemarau Picu Debu Halus, Dinkes Semarang: Balita Paling Rentan Pneumonia

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang M Abdul Hakam. (matasemarang.com/Lia Dina)
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang M Abdul Hakam. (matasemarang.com/Lia Dina)
  • Debu halus saat musim kemarau kering picu ISPA hingga pneumonia
  • Tembalang jadi wilayah paling rentan terhadap risiko penyakit tersebut karena paling banyak terdeteksi debu halus

MATASEMARANG.COM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan pernapasan akibat melonjaknya debu halus (Particulate Matter 2,5 atau PM 2,5) selama musim kemarau. Ancaman debu halus akibat cuaca kering mengintai kelompok rentan, terutama balita.

Kepala Dinkes Kota Semarang M. Abdul Hakam mengatakan bahwa berdasarkan pemantauan di lapangan, paparan partikel PM 2,5 paling dominan ditemukan di wilayah pemukiman padat seperti kawasan Tembalang hingga Kedungmundu, khususnya di Kelurahan Sendangmulyo.

BACA JUGA  Sekolah Vokasi Undip Kembangkan Buggy Car Listrik dengan Panel Surya

“Sendangmulyo itu kawasannya sangat padat dan jumlah balitanya cukup banyak. Di musim kemarau seperti ini, tingkat debu halus PM 2,5 tergolong tinggi. Akibatnya, angka balita yang terkena Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga pneumonia di wilayah tersebut tercatat menjadi yang paling tinggi se-Kota Semarang,” kata Hakam, Senin, 14 September 2026.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Harga Cabai dan Bawang Merah di Pasar Karangayu Melonjak

Hakam menjelaskan, partikel PM 2,5 sangat berbahaya bagi organ pernapasan karena berukuran amat kecil dan mengandung senyawa seperti silikon (SiO2), aluminium, hingga besi. Ketika partikel debu ini terhirup melalui hidung atau mulut secara terus-menerus, iritasi pada saluran pernapasan tak terelakkan.

“Awalnya pasti mengalami ISPA. Kalau iritasi ini berulang dua sampai tiga kali dan terjadi lecet di saluran napas, bakteri akan sangat mudah masuk. Kondisi inilah yang memicu infeksi paru-paru berat atau pneumonia,” jelasnya.

BACA JUGA  Diskusi Publik tentang Reformasi Jilid II, Begini Kata Pengamat

Melihat potensi risiko kesehatan yang mengintai masyarakat selama musim kemarau, Dinkes Semarang menyarankan warga untuk kembali memperketat protokol kesehatan mandiri saat beraktivitas di ruang terbuka.

Pos terkait