MATASEMARANG.COM – Di balik hiruk-pikuk peti kemas dan deru mesin kapal di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, berdiri sebuah menara putih yang seolah tak peduli terhadap perubahan zaman.
Tingginya mencapai 30 meter, dengan struktur baja yang mulai menua namun tetap tegap menantang angin laut Jawa yang asin.
Inilah Mercusuar Willem III, satu-satunya mercusuar di Jawa Tengah yang tetap setia menjalankan tugasnya sejak abad ke-19.
Ia bukan sekadar menara pemandu, melainkan saksi bisu transformasi Semarang dari pelabuhan kolonial menjadi pusat logistik modern.
Meski teknologi GPS sudah canggih, cahaya dari Mercusuar Willem III tetap menjadi “pemandu batin” bagi para pelaut yang rindu daratan.
Dibangun pada tahun 1884, nama mercusuar ini diambil dari nama Raja Belanda yang berkuasa saat itu, Willem III.
Pembangunannya bukan tanpa alasan. Kala itu, Semarang sedang bersiap menjadi salah satu pelabuhan tersibuk di Hindia Belanda, menyusul pembukaan jalur kereta api pertama di Indonesia.
Dikutip dari beberapa sumber, konstruksinya dikirim langsung dari Belanda dalam bentuk potongan-potongan baja prefabrikasi, lalu disusun kembali di tanah Semarang. Jika dilihat lebih dekat, detail arsitekturnya mencerminkan kemajuan teknologi maritim Eropa pada masanya.
Salah satu tantangan terbesar Mercusuar Willem III bukanlah badai atau ombak besar, melainkan fenomena alam khas Semarang; penurunan muka tanah (land subsidence) dan rob.
Selama puluhan tahun, kawasan sekitar mercusuar telah mengalami penurunan signifikan. Namun, keajaiban teknik masa lalu membuatnya tetap berdiri.


















