Kontroversi bermula dari promosi diskon untuk paket tumbler bertajuk “Tank”, disertai slogan, “Letakkan di meja dengan bunyi ‘Tak!’”
Kampanye itu langsung memicu kecaman publik karena kata “tank” mengingatkan masyarakat pada kendaraan lapis baja yang digunakan militer saat menumpas aksi demonstrasi prodemokrasi di Gwangju.
Sementara itu, kata “Tak” juga menuai kritik karena mengingatkan sebagian masyarakat pada Park Jong-cheol, aktivis mahasiswa yang tewas akibat penyiksaan polisi pada 1987 dan kemudian menjadi simbol gerakan demokratisasi di Korea Selatan.
Menyusul kontroversi tersebut, pimpinan Starbucks Korea diberhentikan dari jabatannya, sementara Ketua Shinsegae Group, Chung Yong-jin, menyampaikan permintaan maaf atas kampanye tersebut. [Ant/Yonhap]














