“Ini bukan sekadar ritual seremonial. Ini bentuk penghormatan dan pernyataan izin. Kita mohon doa restu dari sembilan klenteng di Pecinan. Keberagaman di sini bukan untuk dipamerkan, tapi untuk dijalani sehari-hari,” kata Harjanto.
Dalam rangkaian Ketuk Pintu, panitia juga membagikan air suci dari lima klenteng kepada masyarakat. Air tersebut menjadi simbol doa, perlindungan, dan harapan baik bagi siapa pun yang menerimanya.
Tak hanya itu, pengunjung juga disuguhi kuliner khas muslim Tiongkok dari wilayah Sinjiang. Hidangan ini menarik perhatian karena masih jarang dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.
“Makanan khas muslim Tiongkok dari Sinjiang ini mungkin banyak yang belum pernah mencoba. Ini juga bagian dari memperkenalkan keberagaman,” tuturnya.
Seluruh rangkaian acara dimaknai sebagai doa agar rezeki mengalir lancar di tahun yang baru. Imlek 2026 yang memasuki tahun kuda dimaknai sebagai tahun penuh dinamika.
“Kuda itu larinya ke sana ke mari, tidak terduga. Tapi dalam budaya Jawa, kuda juga simbol kekuatan dan pertunjukan besar,” jelasnya.
Tahun ini, Pasar Imlek Semawis digelar beriringan dengan Pasar Dugderan, tradisi jelang Ramadan di Kota Semarang. Dua agenda budaya besar ini diharapkan tidak saling bersaing, melainkan saling menguatkan.
“Budaya Tionghoa, Islam, dan Jawa itu kalau digabung seperti masakan ditambah garam rasanya jadi makin enak,” tuturnya.
Ia optimistis, sinergi Pasar Imlek Semawis dan Dugderan akan meningkatkan kunjungan wisata sekaligus menggairahkan ekonomi kota.


















