Tanpa Merek, Tungku Wingko Slamet Terus Menyala

Slamet memulai perjalanannya menjajal akses pembiayaan formal dengan mengambil pinjaman senilai Rp5 juta dari bank pelat merah.

Nilai itu mungkin tidak besar bagi usaha skala korporasi. Namun, bagi pelaku UMKM seperti dirinya, dana tersebut menjadi titik penting untuk memperbaiki proses produksi.

Salah satu perubahan besar yang ia rasakan adalah kemampuan memiliki alat produksi sendiri. Sebelumnya, Slamet membeli kelapa parut dari pasar. Cara itu membuat biaya produksi lebih tinggi karena ia tidak mengolah kelapa utuh secara mandiri.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Belanja, Pamer, Buang

Dana dari perbankan pun ia gunakan untuk membeli mesin parut, yang membantu kapasitas dapurnya terus berkembang. Jika sebelumnya ia hanya menggunakan kompor biasa, kini rumah produksinya telah memiliki 12 tungku dari enam unit kompor untuk mengejar produksi harian.

“Dulu kompor itu hanya dua tungku. Sekarang ada enam kompor, jadi ada 12 tungku,” tutur Slamet, menceritakan perjalanan usaha wingkonya.

Cara pemasaran Slamet masih konvensional. Wingko buatannya dititipkan ke warung-warung kelontong. Meski sederhana, pola distribusi ini masih efektif. Dari jalur itulah, produknya menjangkau pembeli harian dan menjadi bagian dari konsumsi masyarakat sekitar.

BACA JUGA  Ketika Kata-Kata Panglima Tertinggi Jadi Amunisi Musuh

Dalam sehari, Slamet mampu memproduksi sekitar 15 sampai 20 loyang wingko. Setiap loyang dijual dengan harga Rp30.000 dan dapat dipotong menjadi 10 sampai 14 bagian, tergantung pesanan.

Menariknya, Slamet tidak memberi merek pada produknya. Ia lebih mengandalkan rasa, jaringan pelanggan, dan kepercayaan warung yang menjadi tempat titipan.

Pos terkait