Tanpa Merek, Tungku Wingko Slamet Terus Menyala

“Jualnya kami sudah punya langganan sendiri. Kami tidak ada mereknya, jadi bisa dipakai, ndak apa-apa, asal fair-fair saja,” katanya.

Kebutuhan Tambahan Modal

Namun, perjalanan usaha kecil tidak selalu berjalan mulus. Setelah pandemi COVID-19, Slamet mengaku permintaan belum sepenuhnya kembali seperti sebelumnya. Di sisi lain, harga bahan baku seperti kelapa super, tepung ketan, dan plastik turut menekan margin usaha.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Kala Pemilik Akal Asli Menggugat yang Imitasi

Meski biaya produksi meningkat, Slamet belum berencana menaikkan harga jual kepada pelanggan. Keputusan itu diambil agar produknya tetap terjangkau. Bagi pelaku usaha kecil, menjaga harga merupakan cara mempertahankan pelanggan lama.

Di tengah tekanan tersebut, Slamet mencari tambahan penghasilan dari usaha sampingan menjual kelapa parut. Bahan baku yang digunakan berasal dari kelapa tua atau kelapa yang tidak cocok untuk produksi wingko. Usaha sampingan ini menjadi bantalan ketika pesanan wingko sedang sepi.

BACA JUGA  Belanja, Pamer, Buang

Dari usaha wingko saja, Slamet bisa mengantongi omzet harian sekitar Rp300.000 sampai Rp500.000. Dalam waktu tertentu, omzet dari usaha kelapa parut bisa melampaui pendapatan dari wingko babat.

Produk Slamet juga tidak hanya berputar di pasar lokal. Wingko buatannya kerap dibawa sebagai buah tangan ke luar kota, luar Jawa, bahkan luar negeri. Meski tanpa bahan pengawet dan hanya bertahan sekitar tiga sampai empat hari di suhu ruang, produknya tetap diminati.

Agar usahanya tetap bertahan di tengah lonjakan harga, Slamet kembali mencairkan pinjaman senilai Rp50 juta dengan tenor tiga tahun. Ia mengaku lebih tenang karena mengetahui Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang diambil telah dijamin PT Asuransi Kredit Indonesia atau Askrindo.

Pos terkait