“Bunganya terjangkau. Ini ambil (tenor) tiga tahun. Baru pencairan, sudah dapat setahun,” kata Slamet.
Branch Manager Askrindo Semarang Gami Aji L menuturkan, pihaknya berperan menjamin KUR yang diambil oleh Slamet.
Secara total, penjaminan KUR Askrindo di Kantor Cabang Semarang mencapai Rp1,3 triliun hingga April 2026. Jumlah debiturnya mencapai 24.000 orang. Kebanyakan debitur berasal dari sektor perdagangan, dengan jumlah mencapai 10.571 debitur.
Bagi pelaku UMKM, akses pembiayaan menjadi salah satu kunci untuk menjaga keberlangsungan usaha. Namun, bagi lembaga keuangan, penyaluran kredit ke segmen kecil tetap memiliki risiko. Di sinilah peran penjaminan atau pertanggungan kredit menjadi penting dalam menjaga ekosistem pembiayaan.
Peran itu pun diiyakan oleh Direktur Kepatuhan, SDM dan Manajemen Risiko Askrindo R Mahelan Prabantarikso. Askrindo sejauh ini telah menanggung KUR dengan nilai akumulasi Rp810,3 triliun untuk periode 2007 hingga Maret 2026.
“Partisipasi aktif kami dalam program KUR merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan untuk mendukung inklusi keuangan dan penguatan sektor UMKM,” kata Mahelan.
Cerita Slamet menjadi contoh kecil dari bagaimana pembiayaan dapat membantu UMKM bertumbuh. Dari pinjaman Rp5 juta untuk membeli mesin parut, hingga pembiayaan yang lebih besar untuk memperkuat usaha, akses modal memberi ruang bagi pelaku kecil untuk bertahan dan berkembang.
Bagi Slamet, usaha wingko babat mungkin dimulai dari rasa bosan sebagai karyawan. Namun, perjalanan itu kini menunjukkan bahwa UMKM dapat tumbuh ketika keberanian, ketekunan, akses pembiayaan, dan dukungan ekosistem berjalan beriringan. [Ant]


















