Agustina menekankan bahwa semangat toleransi di wilayahnya bukan sekadar seremoni atau kegiatan formal, melainkan praktik nyata yang hidup di tengah masyarakat. Kehadiran kebijakan yang inklusif serta perjumpaan yang hangat lintas iman menjadi kunci utama mengapa harmoni di Ibu Kota Jawa Tengah ini terus terjaga dengan sangat baik.
“Di Kota Semarang, toleransi tidak menunggu panggung dan event. Ia hidup di kampung-kampung, di ruang ibadah, di ruang publik, dan laku keseharian warga kami. Maka penghargaan ini kami persembahkan untuk seluruh warga Kota Semarang,” tegas Agustina.
Penghargaan ini diharapkan menjadi motivasi bagi seluruh pihak, mulai dari tokoh agama, komunitas lintas iman, hingga generasi muda, untuk terus berkolaborasi menjaga stabilitas sosial. Dengan semangat menjadikan Semarang sebagai rumah bersama yang hangat dan aman, pemerintah berkomitmen bahwa keberagaman yang dirawat dengan hati akan menjadi fondasi kuat bagi masa depan kota yang lebih hebat dan damai. ***


















