Ada yang Jauh Lebih Penting bagi Anak Usia Dini daripada Latah Membekalinya dengan AI

Kelebihan Manusia

Namun ada pertanyaan yang mengemuka. Apa sebenarnya kelebihan dari manusia? Dan bagaimana mengajarkan kelebihan manusia?

Sebagai peneliti kecerdasan, ia menggunakan pendekatan interdisiplin untuk memahami bagaimana manusia berpikir. Dalam penelitian di laboratorium di Tsinghua University, ia melibatkan anak-anak, hewan dan kecerdasan buatan.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Pakar: Penyebaran AI Berkonten Ujaran Kebencian Terancam Pidana

Dalam eksperimennya pada anak usia 2 hingga 3 tahun, ia membandingkan dua gambar bangun datar dengan pola yang sama. Mayoritas anak-anak yang ditanyakan mana gambar yang mirip dengan gambar contoh akan kebingungan dan menjawabnya dengan salah.

Uniknya, pertanyaan yang sama ditanyakan dengan pendekatan yang berbeda yakni membandingkan gambar satu dengan gambar lainnya, maka sebagian besar anak bisa menjawabnya dengan benar.

“Anak-anak belajar melalui rasa ingin tahu dan meniru, namun mereka melakukan imitasi tidak sembarang mengikuti. Melainkan tetap menggunakan rasionalitas,” kata Stella lagi.

BACA JUGA  Guru TK, SD, dan SMP di Kendal Dilatih Koding dan Gunakan AI

Bertanya dan Meniru

Stella menjelaskan anak berkembang dengan bertanya dan meniru. Oleh karena itu, penting memberi kesempatan seluas-luasnya bagi mereka untuk belajar melalui pertanyaan, menjawab dengan cara yang mendorong berpikir, sekaligus menunjukkan teladan yang baik dalam keseharian.

Stella menegaskan bahwa pengasuhan yang berpijak pada bukti ilmiah dan relasi yang bermakna merupakan landasan bagi perkembangan otak dan proses belajar anak sepanjang hayat.

AI Belajar dari Anak

Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa tidak ada teknologi termasuk kecerdasan buatan yang dapat menggantikan kekuatan interaksi manusia. Bahkan dalam sebuah studi, AI akan semakin cerdas jika mendapatkan stimulasi yang diberikan pada anak. Dengan kata lain AI belajar pada anak.

Pos terkait