5 Wali Kota sejak Era Reformasi; Kebijakan dan Prestasi yang Mengubah Semarang

Wali Kota Semarang
Wali Kota Semarang

MATASEMARANG.COM – Semarang bukan sekadar kota pelabuhan tua dengan bangunan kolonialnya yang megah.

Di balik transformasi pesatnya menjadi kota metropolitan yang modern namun tetap humanis, ada tangan-tangan dingin para pemimpin yang membawa visi berbeda di setiap zamannya.

Dari penataan drainase yang krusial hingga revitalisasi ruang publik yang estetik, setiap masa jabatan meninggalkan warisan yang membentuk identitas Semarang hari ini.

Bacaan Lainnya

Berikut ini perjalanan kepemimpinan Kota Semarang dan melihat kembali kebijakan apa saja yang masih berdiri kokoh menjadi kebanggaan warganya.

1. Soetrisno Suharto (1990 – 2000)

Soetrisno Suharto menjabat selama dua periode di era transisi Orde Baru ke Reformasi.

Dia dikenal sebagai peletak dasar penataan kota modern Semarang jelang millenium baru. Salah satu fokus utamanya adalah mengatasi masalah klasik Semarang: banjir dan rob.

Tenangkan Mahasiswa: Soetrisno Suharto yang menjabat pada era reformasi di penghujung kepemimpinannya mendapatkan tantangan yang besar, yakni unjuk rasa besar-besaran di Indonesia. Di Kota Semarang, dia turun langsung menenangkan mahasiswa dalam unjuk rasa untuk menjaga keamanan dan kondusifitas daerah yang dia pimpin.

BACA JUGA  5 Rekomendasi Wisata Milik Pemkot Semarang: Pilihan Tepat untuk Liburan Keluarga

Rencana Pengembangan Simpang Lima: Pada masanya, Soetrisno Suharto berambisi membangun Simpang Lima sebagai landmark kota yangmegah. Tak tanggung-tanggung, dia berencana membangun kawasan perekonomian di bawah tanah dengan mendatangkan investor dari luar negeri. Namun rencana itu urung dilakukan karena dianggap karena kawasan Simpang Lima belum feasible (layak) kala itu.

2. Sukawi Sutarip (2000 – 2010)

Sukawi Sutarip menjadi Wali Kota pertama di era pemilihan langsung, menjabat selama dua periode.

Era Sukawi Sutarip ditandai dengan pembangunan infrastruktur skala besar yang bertujuan mengubah citra Semarang dari kota yang “tenggelam” menjadi kota yang berkembang secara infrastruktur.

Pembangunan Waduk Jatibarang dan Normalisasi Banjir Kanal Barat: Proyek ini merupakan salah satu solusi jangka panjang paling masif untuk mengendalikan debit air dan mencegah banjir di wilayah Semarang bawah.

Lahirnya BRT Trans Semarang: Pada akhir masa jabatannya (2009), sistem transportasi massal Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang diluncurkan sebagai solusi kemacetan masa depan.

3. Soemarmo HS (2010 – 2012)

Soemarmo HS menjabat dalam waktu yang relatif singkat karena terjerat masalah suap.

Meskipun masa jabatannya tidak penuh, Soemarmo memberikan penekanan pada pelayanan publik dan kelanjutan proyek infrastruktur strategis.

BACA JUGA  Cegah Praktik Korupsi, Wali Kota Semarang Dorong Perubahan Kultur Birokrasi Menyeluruh

Jargon Semarang Setara: Memulai digitalisasi terbatas pada sistem administrasi kependudukan untuk mempermudah warga. Program ini bertujuan untuk mengangkat derajat Kota Semarang agar sejajar dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, atau Bandung.

Perencanaan Pembangunan Pasar Bulu: Salah satu yang paling monumental adalah dimulainya proses perencanaan dan pembangunan kembali Pasar Bulu menjadi pasar modern tanpa menghilangkan sisi tradisionalnya. Meskipun demikian, proyek tersebut dijalankan oleh penerusnya lantaran Soemarmo harus berurusan dengan hukum pada saat itu.

4. Hendrar Prihadi (2013 – 2022)

Hendrar Prihadi mengawali sebagai Plt, kemudian terpilih dalam dua periode Pilkada.

Hendrar Prihadi (Mas Hendi) sering dianggap sebagai tokoh di balik “Revolusi Wajah Semarang”. Di bawah kepemimpinannya, Semarang bertransformasi menjadi kota yang sangat estetik dan ramah wisatawan.

Revitalisasi Kota Lama: Inilah pencapaian paling ikonik. Mengubah kawasan kumuh “Little Netherland” menjadi destinasi wisata kelas dunia yang bersih dan tertata.

Pembangunan Taman Kota dan Kampung-kampung: Mengubah lahan mati menjadi ruang terbuka hijau (seperti Taman Indonesia Kaya) dan menyulap pemukiman kumuh menjadi destinasi instagramable.

Semarang Smart City: Mengintegrasikan sistem pelayanan publik melalui aplikasi terpadu dan penyediaan WiFi gratis di banyak ruang publik. Selain itu, dia berhasil membawa Semarang meraih predikat Kota Wisata Terbersih se-Asia Tenggara (ASEAN Clean Tourist City).

BACA JUGA  Agustina: PPPK Paruh Waktu Juga Wajib Jadi Anggota KKMP

5. Hevearita Gunaryanti Rahayu (2023 – 2025)

Hevearita Gunaryanti Rahayu menjabat sejak Januari 2023 setelah sebelumnya menjadi Wakil Wali Kota. Kepemimpinan Hendrar Prihadi diteruskan olehnya setelah Hendi mendapatkan tugas baru dari Presiden Joko Widodo sebagai kepala LKPP.

Hevearita (Mbak Ita) mencatatkan sejarah sebagai Wali Kota perempuan pertama di Semarang. Fokusnya lebih banyak pada ketahanan pangan, penanganan stunting, dan keberlanjutan lingkungan.

Kampanye Ketahanan Pangan (Urban Farming): Sangat gencar mengampanyekan pemanfaatan lahan sempit untuk pertanian perkotaan demi menjaga stabilitas harga pangan di tingkat rumah tangga.

Penanganan Stunting yang Agresif: Menjadikan penurunan angka stunting sebagai prioritas utama dengan melibatkan berbagai lapisan masyarakat. Berdasarkan catatan, prevalensi stunting di Kota Semarang berhasil diturunkan menjadi 10,4 persen pada tahun 2022, dan terus ditekan hingga dilaporkan mencapai 1,14 persen pada akhir tahun 2023.

Target Zero Stunting: Hevearita Gunaryanti Rahayu optimistis menuju target zero stunting pada tahun 2024 dengan menyisakan sedikit kasus pada awal 2024, yaitu sekitar 870-an anak.

Penghargaan: Atas kinerjanya, Mbak Ita menerima penghargaan dari BKKBN Pusat sebagai inspirator dan penggerak pencegahan stunting pada tahun 2023.

Pos terkait