MATASEMARANG.COM – Wajah modern, gedung megah, dan fasilitas yang jauh lebih bersih. Itulah janji manis yang kerap menyertai setiap proyek revitalisasi pasar tradisional.
Tujuannya tentu mulia, yaitu mengubah citra pasar yang dulunya kumuh, becek, dan semrawut menjadi tempat belanja yang nyaman layaknya pusat perbelanjaan modern.
Namun, realita di lapangan sering kali berbicara lain. Di balik megahnya dinding-dinding beton yang baru dibangun, denyut nadi perekonomian di beberapa pasar ini justru kian melemah.
Lorong-lorong pasar yang dulunya sesak oleh tawar-menawar kini lengang. Lapak-lapak gulung tikar, dan suara langkah kaki pengunjung bisa terdengar jelas lantaran saking sepinya.
Salah satu benang merah dari kegagalan konsep ini adalah pembangunan gedung yang dibuat menjadi lebih dari satu lantai.
Alih-alih menampung lebih banyak pedagang, konsep vertikal ini justru menjadi bumerang yang memutus rantai interaksi jual-beli.
Berikut ini daftar lima pasar hasil revitalisasi di Kota Semarang ini justru kehilangan tajinya.
1. Pasar Johar

Alamat: Jalan KH Agus Salim, Kauman, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang.
Usai kebakaran hebat dan proses rekonstruksi panjang yang mengembalikan kemegahan arsitektur cagar budaya karya Thomas Karsten, Pasar Johar belum mampu memulihkan kejayaannya.
Bagian Johar Utara, Tengah, dan Selatan memang tampak rapi, namun aktivitas jual-beli sangat kontras dengan masa lalunya. Lantai atas sering kali sepi dan banyak lapak tutup karena tidak ada pembeli yang mau naik.
Padahal dulunya pasar ini menjadi pusat grosir di Semarang dan melebar hingga ke Pasar Yaik (kini jadi Aloon-aloon Masjid Agung Semarang).
Sebagian pedagang yang dipindah ke kawasan Masjid Agung Jawa Tengah saat proses revitalisasi justru enggan kembali lagi ke Johar karena sudah menemukan tempat barunya.
Penataan zonasi pedagang yang diatur ulang membuat pelanggan setia kehilangan arah dan malas mencari lokasi baru.
2. Pasar Bulu

Alamat: Jalan Mgr Sugiyopranoto, Barusari, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang (Depan Tugu Muda).
Pasar Bulu adalah salah satu contoh paling awal kegagalan konsep pasar bertingkat modern di Semarang.
Lokasinya yang berada di pusat kota justru menjadi tantangan Pasar Bulu untuk bersaing dengan supermarket yang berada di dekat permukiman penduduk perkotaan.
Terdiri dari tiga lantai dengan fasilitas eskalator (yang kini sering mati), kondisi pasar ini sangat memprihatinkan.
Lantai 2 dan 3 hampir ruang sunyi karena mayoritas kios tutup. Aktivitas hanya berpusat di lantai dasar, itu pun jumlahnya tidak seberapa.
Detak jantung Pasar Bulu bergantung pada aktivitas pasar pagi yang berada di basement.
3. Pasar Sampangan Baru

Alamat: Jalan Menoreh Raya, Sampangan, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang.
Setelah dipindah dari lokasi lama di pinggir jalan ke gedung baru yang berlantai dua, Pasar Sampangan menjadi semakin sepi dari biasanya.
Lantai dasar yang diisi pedagang basahan (sayur, daging, ikan) masih menyisakan sedikit aktivitas.
Namun, lantai dua yang diperuntukkan bagi pedagang keringan, pakaian, dan kuliner, kondisinya mati suri.
Pembeli enggan naik ke lantai dua. Banyak pedagang yang memilih berjualan di luar area pasar (menjadi pedagang kaki lima).
Mahasiswa dan warga sekitar Sampangan kini lebih memilih belanja di swalayan lokal atau warung sayur sat-set yang menjamur di sepanjang Jalan Menoreh.
4. Pasar Kanjengan Baru

Alamat: Kawasan Johar, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang (belakang Pasar Johar).
Sebagai bagian dari kompleks pertokoan Johar, Pasar Kanjengan dibangun kembali dengan gedung multi-lantai yang modern.
Namun, nasibnya tidak jauh berbeda. Lantai-lantai atas sangat sepi dari kunjungan konsumen.
Gedung yang dirancang bersih dan aman ini justru terasa dingin dan kehilangan atmosfer pasar tradisional yang hidup.
Untuk pasar yang mayoritas pedagangnya adalah grosir atau semi-grosir, konsep bertingkat menyulitkan proses bongkar muat barang (loading-unloading).
Kalah bersaing secara eksposur dengan bangunan utama Pasar Johar (cagar budaya), sehingga pembeli jarang yang melangkah masuk hingga ke area Kanjengan bagian atas.
Kini Pemerintah Kota Semarang berupaya menarik hati para pedagang korban kebakaran di Pasar Kanjengan untuk menempati dan meramaikan lantai atas yang sudah disediakan.
5. Pasar Rejomulyo Baru

Alamat: Jalan Pengapon, Kelurahan Kemijen, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang
Pasar Rejomulyo Baru awalnya dimaksudkan sebagai relokasi pedagang ikan yang berada di Pasar Kobong.
Namun gedung baru yang megah tidak otomatis membawa berkah. Para pedagang merasa di tempat yang lama masih menjadi “penglaris” yang terbukti bisa meraup omzet miliaran rupiah setiap malamnya.
Selain itu, Untuk pasar ikan grosir, kondisi Pasar Rejomulyo Baru dinilai kurang ramah terhadap sirkulasi air, limbah amis, dan kemudahan distribusi tong-tong ikan berukuran besar.
Akses masuk ke gedung yang bertingkat dirasa juga menyulitkan untuk proses bongkar muat pedangan dan pembeli.
















