Jejak Harum Aroma Kopi Legendaris dari Wotgandul Semarang

Dharma juga mengungkapkan bahwa meningkatnya minat masyarakat terhadap kopi turut dipengaruhi oleh budaya populer, seperti film “Filosofi Kopi” yang memperluas ketertarikan publik.

Setiap hari, ia bersama timnya melakukan uji rasa dan pencampuran untuk menjaga konsistensi kualitas produk.

“Kami selalu mencoba kopi yang kami jual dan melakukan blending,” ujarnya.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Seruan Kesadaran Ekologis dari Bencana Sumatra Barat

Ia memandang kopi sebagai bentuk seni yang tidak memiliki standar tunggal dalam penilaian rasa.

“Kopi itu seni yang tidak ada habisnya. Tidak ada yang paling enak karena setiap orang punya selera sendiri,” kata Dharma.

Saat ini, produksi Dharma Boutique Roastery masih dalam skala kecil dengan kapasitas harian yang belum mencapai satu kuintal. Dharma mengatakan usahanya pernah melakukan ekspor, tapi terhenti akibat krisis ekonomi global dan perang dunia.

“Kami masih kecil,” ujarnya. [Ant]

BACA JUGA  Eks Pemimpin Jamaah Islamiyah Serukan Napiter Kembali ke NKRI

Pos terkait