“Seni karawitan ini justru banyak diminati di luar negeri. Bahkan mereka lebih antusias dan serius dalam belajar karawitan hingga ke dalam-dalamnya. Jadi misalnya di sini (Indonesia) tidak banyak yang mau belajar karawitan, saya tidak khawatir karena di luar negeri itu justru banyak peminatnya,” ungkapnya.
Selain aktif sebagai akademisi, Prof Widodo juga berkontribusi sebagai praktisi dan organisator seni melalui berbagai peran strategis, di antaranya sebagai Ketua Harian Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) Jawa Tengah dan Sekretaris Jenderal Sekretariat Gamelan Indonesia (SGI) Pusat.
Melalui riset, karya, dan pengabdiannya, Prof. Widodo terus mendorong pelestarian sekaligus pengembangan karawitan Jawa sebagai identitas budaya bangsa yang adaptif dan relevan di tingkat global.
Selain Prof Widodo yang fokus pada seni karawitan, Guru Besar Unnes lainnya, Prof. Dr. Taufiq Hidayah, M.Kes yakni Profesor Bidang Pedagogi Olahraga juga turut dikukuhkan.
Menurutnya, dalam pendidikan olahraga, gerak bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi menjadi medium pembelajaran yang membentuk keterampilan, motivasi, dan karakter.
Guru Besar Unnes yang juga menjabat Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan ini menekankan pentingnya pendekatan pedagogi olahraga yang terintegrasi antara proses latihan dan pembelajaran.
Melalui kepakarannya, ia mengembangkan model pembelajaran olahraga yang menggabungkan pendekatan Long-Term Athlete Development (LTAD) dan Game-Centered Approach (GCA), yang tidak hanya berfokus pada penguasaan teknik, tetapi juga mendorong kemampuan pengambilan keputusan, keterlibatan aktif, serta motivasi peserta didik dalam situasi permainan.


















