MATASEMARANG.COM – Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) melalui Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) terjun langsung meneliti fenomena terdamparnya hiu paus secara beruntun di pesisir selatan Cilacap.
Dalam sepekan terakhir, dua ekor hiu paus ditemukan terdampar di Pantai Banjarsari, Kecamatan Nusawungu, dengan jarak hanya enam kilometer.
Peneliti Unsoed Mukti Trenggono, M.Si., menjelaskan bahwa kondisi oseanografi menjadi faktor ekologis utama.
Data citra satelit MODIS Aqua menunjukkan konsentrasi klorofil-a tinggi (1–3 mg/m³) dan suhu permukaan laut hangat (29–30°C).
“Kondisi ini meningkatkan produktivitas perairan dan menarik hiu paus mendekati pantai untuk berburu udang rebon dan ikan teri,” jelasnya.
Hasil nekropsi memperkuat temuan tersebut, dengan lambung hiu paus penuh ikan teri nasi.
Namun, tim juga menemukan luka akibat baling-baling kapal dan sampah plastik di saluran pencernaan.
Peneliti Unsoed, Dr. Nuning Vita Hidayati, menilai pencemaran laut berperan besar.
“Penurunan kualitas perairan akibat logam berat dan sampah plastik dapat memengaruhi sistem imun dan navigasi hiu, memicu disorientasi hingga keterdamparan,” ungkapnya.
Unsoed kini melakukan analisis lanjutan di laboratorium, mencakup kualitas air, kajian oseanografi, dan analisis genetik.
Riset ini diharapkan menghasilkan rekomendasi akademis bagi pemerintah daerah untuk melindungi kawasan ruaya hiu paus di pesisir selatan Jawa.


















