Seorang pejabat otoritas angkasa China mengatakan kepada Kyodo News bahwa frekuensi radio dan orbit satelit bersifat terbatas. Beijing melihat hal itu sebagai aset strategis yang tak boleh diabaikan, sehingga permohonan penggunaannya harus segera diajukan.
Menurut rencana pembangunan ekonomi lima tahun hingga 2030, China akan mendorong pengembangan jaringan komunikasi satelit.
Penelitian yang dilakukan Beijing terhadap cara kerja layanan Starlink di Taiwan dan wilayah sekitarnya juga mencerminkan kekhawatiran mereka terhadap kemampuan pengintaian dan pengumpulan intelijen sistem, yang dianggap dapat membantu AS dalam mempertahankan Taiwan.
China mengakui Taiwan sebagai wilayahnya dan terus berupaya menguasai wilayah tersebut, termasuk dengan pengerahan militer jika diperlukan.
Namun demikian, sejumlah pengamat menyebut rencana China meluncurkan satelit sebanyak itu tidak memungkinkan secara teknis.
Profesor Kazuto Suzuki, akademisi Sekolah Pascasarjana Kebijakan Publik di Universitas Tokyo, mengatakan rencana China “tak realistis”. Profesor Suzuki meyakini hal itu dilakukan lebih untuk memamerkan kemampuan China mencapai apa yang AS bisa lakukan.
Selain itu, China juga berupaya mendaratkan manusia di Bulan pada tahun 2030 di tengah upaya pemerintahan Presiden China Xi Jinping menjadikan Negeri Tirai Bambu itu sebagai negara adidaya di bidang angkasa.
Kantor Berita Xinhua, Jumat (24/4), melaporkan Beijing berencana meluncurkan misi penerokaan di Mars pada 2028 dan membawa sampel dari Mars pulang ke Bumi pada 2031. [Ant/Kyodo]
















