Dalam hal kolaborasi, ia menyebut tren influencer kini bergeser dari mega influencer ke micro dan nano influencer yang lebih tepat sasaran. Kolaborasi tidak lagi sebatas endorsement, melainkan co-creation atau pembuatan konten bersama.
“Pendekatan kolaboratif ini tidak harus berbasis pembayaran, bisa melalui pengalaman langsung seperti KOL trip,” tambahnya.
Ia juga menekankan pentingnya manajemen krisis di media sosial, mulai dari monitoring 24 jam, SOP penanganan isu negatif, hingga klarifikasi cepat berbasis data.
“Pesan harus konsisten di semua platform serta melibatkan kolaborasi lintas instansi,” pungkasnya.


















