MATASEMARANG.COM – Kurs rupiah terhadap mata uang asing terutama dolar AS sejak agresi AS dan Israel ke Iran kian lemas. Nilai tukar rupiah terhadap greenback makin menjauh dari Rp17.000 per dolar AS.
Kurs rupiah pada penutupan perdagangan pada Rabu sore melemah 83 poin atau 0,48 persen menjadi Rp17.326 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.243 per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan pelemahan rupiah dipicu peningkatan permintaan safe haven di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah.
“Dari sisi global, rupiah tertekan oleh stabilnya indeks dolar AS di level tinggi (sekitar 98,6) serta meningkatnya permintaan safe haven di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah,” katanya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Kekhawatiran terhadap inflasi global akibat kenaikan harga energi turut memperkuat dolar AS, dan mendorong arus modal keluar dari emerging markets, termasuk Indonesia.
Selain itu, ekspektasi bahwa Federal Reserve atau Bank Sentral Amerika Serikat akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama semakin membatasi ruang penguatan rupiah.
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa isu pergantian Ketua Federal Reserve menjadi sumber ketidakpastian tambahan.
“Jika pengganti Jerome Powell cenderung lebih hawkish, pasar akan mengantisipasi suku bunga tinggi lebih lama, yang berpotensi memperkuat dolar AS dan menekan rupiah. Sebaliknya, jika arah kebijakan lebih dovish, hal ini dapat membuka ruang stabilisasi atau penguatan rupiah,” ujar dia.


















