Melihat sentimen domestik, fundamental ekonomi Indonesia dinilai relatif stabil dengan inflasi yang masih berada dalam target serta suku bunga Bank Indonesia di level 4,75 persen untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Amru berpendapat indikator makro ekonomi juga menunjukkan kondisi yang cukup solid, tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang terjaga dan sistem keuangan yang tetap kuat.
Namun, menurut dia, tekanan eksternal yang masih dominan membuat ruang kebijakan menjadi terbatas dan pergerakan rupiah tetap rentan terhadap dinamika global.
Untuk menjaga stabilitas, Bank Indonesia mengandalkan intervensi di pasar spot, sekaligus aktif di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). “Strategi ini dinilai efektif dalam mengelola ekspektasi pasar tanpa harus menguras cadangan devisa secara signifikan, meskipun tantangan struktural terkait ketahanan eksternal masih perlu diwaspadai,” ujar Amru dikutip Antara.
Menurut dia, pelaku pasar cenderung berhati-hati pula menjelang rilis data penting pekan ini, termasuk inflasi April dan neraca perdagangan Maret. Data sebelumnya menunjukkan inflasi Maret melambat ke 3,48 persen, meskipun risiko kenaikan masih terbuka akibat tingginya harga minyak global.
“Di sisi lain, surplus perdagangan Februari tercatat di bawah ekspektasi akibat lonjakan impor, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap keseimbangan eksternal,” kata Research and Development ICDX itu.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Rabu ini juga bergerak melemah ke level Rp17.324 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.245 per dolar AS. ***


















